Tuesday, July 07, 2009

Kampanye Primordial

SMS ini dikirim nyokap gue beberapa minggu yang lalu

Baringin gadang di tangah koto
Daunnyo malambai akanyo manjelo
Diureknyo Bundo manyulam jo marendo
Kalau sanak mancari ciri sarato tando
Urangnyo pandai alim tabao
Induak barehnyo bajilbab pulo
Anak urang Lintau Buo

Pai mamikek ke Umbilin
Singgah di tambang batubaro
Kalau dunsanak mamilih pamimpin
Pilih Capres nan urang Sumando
Ibu negara jatuah ka urang awak pulo

Teruskan pesan ini ke 10 teman urang awak

Sebagai orang yang (sok) ngerti Bahasa Minang gue mencoba menerjemahkannya

Beringin besar di tengah kota
Daunnya melambai, akarnya menjulur
Di urat (akarnya) Bunda menyulam merenda
Bila anda mencari ciri serta tanda
Orangnya pandai, alim pula
Induak barehnyo berjilbab pula (nah yang ini gue gak ngerti. Arti harafiahnya induak barehnyo=induk beras. Tapi kalau melihat kata-kata "......berjilbab pula" mungkin mengarah kepada istri atau home-maker)

Pergi memikat ke Umbilin
Singgah di tambang batu bara
Bila saudara memilih pemimpin
Pilih Capres yang keluarga suami (ini kembali bagian sok tau gue. Urang sumando setau gue adalah sebutan untuk suami dan keluarganya)
Ibu negara jatuhnya ke kaum kita juga

Pesan ini diakhiri dengan embel-embel untuk diteruskan kepada teman yang urang awak a.k.a orang Minang juga.

Entah kenapa, ketika menerima pesan ini, perasaan yang timbul dengan segera adalah muak.
Rasanya seperti penghianatan besar-besaran terhadap Sumpah Pemuda yang sudah berusia 100 tahun lebih. Kenapa juga kampanye masih menggunakan semangat kesukuan yang primordial seperti ini sih? Sedih gue.....