Monday, May 26, 2008

James Blunt: All The Lost Souls Concert

Rabu, 21 Mei 2008

Berangkat bareng Tiek. Janjian ketemu di Plangi. Makan dulu di Rice Bowl. Dengan noraknya gue excited berlebihan. “Butterfly in my stomach” kata Tiek
Akhirnya siap berangkat. Cari taksi ribet, nunggu lama. Akhirnya nyampe juga di Tennis Indoor.
Berhubung kami belum pernah nonton di Tennis Indoor, agak lama juga nyari-nyari pintu masuknya. Mana dirubung calo tiket lagi....mereka pada nawarin tiket setengah harga. Gue sempet mikir juga, ”tau gitu tadi si Dina ama Etha ikutan aja. Lumayan juga kalo bisa dapet setengah harga”


Akhirnya pintu masuknya keliatan juga. Pemeriksaan pertama. Biasa aja. Lewat. Trus jalan menuju pemeriksaan kedua. Di sepanjang jalan ini udah mulai banyak pedagang asongan yan jual baju-baju dan poster-poster James Blunt. Yang paling menarik adalah seorang penjual poster di dekat gerbang pemeriksaan kedua. Dia ngejual poster.....DURAN-DURAN!! Lho kok?!?!.... Salah konser, Mas. Itu yang bulan lalu...hehehe... mungkin sisa ya....

Pemeriksaan ketiga. Body checking. Bagus. Yang perempuan diperiksa ama perempuan juga. Ramah. Bersahabat. Minta ijin dulu. Sangat memperhatikan kenyamanan konsumen

Pemeriksaan keempat. Tiket diperiksa dengan lampu UV. Hehehe....kalo ketipu calo, mampus aja. Malunya itu lho… Mungkin ini salah satu alasan kenapa sebaiknya gak beli tiket ama calo

Akhirnya masuk juga ke gate D.

Ada satu kejadian tolol sih… setelah lepas gerbang kami sempet bingung harus lanjut kemana. Melihat kami bingung ada mas-mas panitia dengan semangatnya teriak kenceng, ”Naik ke atas aja Mbak!” Spontan gue jawab, ”Saya tau kalo naik itu ke atas, Mas...tapi lewat mana naiknya?” Sebenernya gue merencanakan kalimat itu sebagai gumaman pertanyaan retoris yang cukup didenger Tiek aja. Tapi ternyata karena agak ngos-ngosan di bawa jalan ala kamp nazi ama Tiek, suara gue menjadi cukup kenceng. Maka para panitia yang ada di deket-deket situ jadi senyum-senyum kecut.

Setelah naik tangga, ketemu pintu yang memperlihatkan panggung. Gue langsung menuju pintu itu dan menemukan bahwa pintu itu menuju tribun yang berada di sisi kanan panggung. Langsung tancap komentar dong gue, ”Ini yang pinggir ya, Tiek?” belum sempat Tiek jawab kembali muncul mas-mas proaktif, ”Kalau mau di tengah, masuknya pintu yang sana Mbak” sambil nunjuk ke arah kanan kami. Wah yang ini bagus nih kayaknya kemampuan spasialnya...

Maka masuklah kami lewat pintu yang tadi ditunjuk. Wuih...masih sepi... Asiik bisa milih tempat. Gue ama Tiek dapat tempat terbaik menurut kami. Satu undakan dibawah tribun utama. Hanya sedikit high angle, tepat dihadapan kami menjembrenglah si panggung.

Masih jam 7. Berarti masih 1 jam lagi baru konsernya mulai. Seperti biasa, banci observasi mulai beraksi…… Hal pertama yang masuk pengamatan gue adalah ternyata banyak orang-orang setengah baya yang nonton. Orang-orang yang menurut gue bukan target pasarnya James Blunt. At least bukan target pasar konser ini. Menarik. Kasiannya mereka pilih nonton di festival yang mana mereka harus berdiri cukup lama sebelum konser -yang ternyata agak molor- ini dimulai

Banyak orang yang dateng mepet waktu tapi pengen tempat yang terbaik. Usaha-usaha mereka kadang bikin gue pengen tutup muka. Khas sekali bangsa ini.....

Akhirnya muncul tanda-tanda konser akan dimulai. Keluar satu sosok berpakaian gelap. Orang mulai tepuk tangan. Tiek mulai nyikut-nyikut pinggang sambil bilang, ”tuh....tuh....” Ternyata.... bukan. Salah satu personel band pendukungnya yang keluar paling duluan yang disusul personel-personel lain. Blunt muncul belakangan. Rapi. Komentar gue dan Tiek: ”HALAH!!! Kok pake jas?!?!” Yap mereka muncul rapi berjas. Para personel band bahkan berdasi.

Senyum sebentar. Konser pun dimulai. Dibuka dengan lagu....

Give Me Some Love
Langsung. Penonton cuma dikasih sepotong senyum manis dan ”Good evening”
Penonton terpana. Gak siap dengan pembukaan yang irit
Penonton belum terlalu panas, kecuali satu penonton di sebelah gue yang selalu meneriakan /Valium said to me I’ll take you seriously/. Dengan berat hati gue beritahukan bahwa penonton itu bernama Tiek. Hiks. Why....why...why....

.....dan konser pun berlanjut....gue berusaha nulis sesuai urutan lagu yang dimainkan....kalaupun gak berhasil, paling gak sesuai nyanyian hati gue....hehehe....


High
Blunt dengan gitar, penonton yang sepertinya udah tau lagunya dari intro serentak nyanyi bareng dari bait pertama. Bagian dari pembukaan yang cantik. Lagu ini selalu mengingatkan gue akan adegan lahirnya bayi kembar 5 di film Grey’s Anatomy

Same Mistake
Kurva turun. Penonton kayaknya memilih untuk menikmati suara dan gantengnya Blunt sambil nyaman di pelukan pasangan masing-masing.....huwaaaaaa....kenapa gue perginya ama Tiek....

I Really Want You
Diawali dengan sambutan meriah penonton, dengan senyum dan tetap masih main gitar Blunt mulai main lagu ini. Menjelang lagu abis, waktu reffrain terakhir terdengar satu teriakan terdengar, ”I Want you too” yang disambut bunyi ketawa satu gedung. Hehehe....

Hampir seperempat konser berjalan, tapi Blunt masih irit ngomong. Senyum-senyum. Mondar-mandir. Masih berdialog dengan gerakan tangan yang itu-itu aja. Terkesan malu-malu. Canggung. Kata Tiek, ”gini nih kalo orang jago tapi dari awal gak merencanakan akan jadi artis terkenal”

Ada satu moment dimana Blunt turun dari panggung dan mendekati pagar pembatas penonton festival. Panjat pagar. Bersalaman dan membiarkan sebagian badan bagian atasnya dikerubuti penonton. Melepaskan diri. Lalu lari ke ujung satunya. Melakukan hal yang sama dan berakhir di tengah. Yang lucu adalah ketika di berlari, penonton seolah ikut bergerak dan berusaha terus memegang dirinya. Mungkin karena sikapnya yang malu-malu, canggung itu bikin penonton gemes dan pengen godain.

I’ll Take Everything
Setelah seperempat awal konser dia cuma senyum-senyum, mondar-mandir canggung, irit bicara dengan cuma ngomong ”Good evening, Jakarta!!!”, penonton dikagetkan dengan Blunt mulai bercerita sambil pindah dari mike tengah panggung ke piano (mungkin sejenis clavinova gitu, bukan grand piano). Dia ngomong kalo orang-orang pada bilang bahwa You’re beautiful emang lagu hebat yang menjadikan dirinya orang terkenal. Trus dia sambung ”I’ve asked when I die and about lied in my grave, please play Good bye my Lover” dan penonton pun melenguh…”No….” Dengan manisnya Blunt senyum. “But now this is the song that you play in the middle. This is a song you play when you get divorced…… I’ll take everything” Huahaha…bisa nglucu juga
Di akhir lagu ada penonton yang teriak dengan nada histeris, “Take Me……”
Bukan. Bukan Tiek.

Goodbye My Lover
Masih sendirian di depan piano. Panggung gelap. Cuma ada satu lampu toplight dengan warna putih kekuningan menyinarinya. Mistis sekali. Bikin gue pengen nangis sampai kebelet pipis.

No Bravery
”This a song about my time in the Army” Cuma itu kalimat pembukanya. Emang bener-bener irit ngomong. Lagu ini mengikuti I’ll take everything. Dimainin dengan piano. Sendirian. Emang tega tuh temen-temenya. “Biarin aja, dia kan yang bayarannya paling mahal” mungkin gitu kata temen-temennya. Di lagu ini keliatan banget luka batin yang terjadi dari pengalaman ketentaraannya. Dan visualisasi sangat menunjang. Walau gak ada gambar mayat bergelimpangan dan Blunt memang berada di Kosovo pas masa peacekeeping, tapi bangunan bekas kena bom, sisa bis yang habis terbakar sedang dipindahkan, memang bisa membangunkan sisi paling gelap dalam diri kita yang udah kita usahakan untuk dikubur dalam-dalam. Imagine he’s doing it on every concert!

You’re Beautiful
Baru intro. Mungkin baru 3 nada. Penonton langsung histeris. Dengan gantengnya Blunt berdiri di tengah panggung sambil main gitar dan membiarkan penonton nyanyi ampir setengah lagu. Dianya cuma senyum-senyum aja. Pas reffrain, ”You’re beautifull.....” perempuan-perempuan yang mengisi separoh stadion serentak menjawab, ”Thank You....” Lagu jagoan. Gak heran lagu ini menobatkan dia sebagai penyanyi papan atas dunia

Shine on
Lupa detilnya. Yang inget cuma gaya berdirinya yang tegap ala militer. Suara khas yang menyihir. Gitar akustik yang dipakai berganti-ganti. Yang kadang di dorong ke arah samping. Rada mirip "Satria Bergitar", tapi biarlah.

Billy
Bagian dari lagu penyihiran. Atau guenya aja yang gampang kesurupan. Liat muka ganteng ama pantat keceng dikit aja langsung lupa diri.

Wisemen
Blunt Cuma teriak,”Wisemen” dan penonton pun berteriak!

Carry You Home
Gue cuma bisa ngebayangin gimana ya rasanya di gendong dibawa pulang ama dia… Mulai masuk periode trance nih kayaknya……

Out of my Mind
Satu hal yang jadi catatan dari konser ini adalah, dukungan lampu, grafis dan visualisasinya keren banget. Stage act emang gak menonjol. Jadi gak perlu malah ketika trio pembangun suasana itu udah melakukan tugasnya dengan baik. Salah satu grafis bagus itu ada di lagu ini.
Di akhir lagu ini Blunt ngajak penonton humming ”dada...dadalalala....dada...daddalaladdada” dan dengan baiknya seluruh penonton nurut.

Lagu apa ya...gue lupa....visualisasinya cuma gambar langit berawan yang terus bergerak tapi ditimpa lampu warna merah yang pekat banget. Gue menamai sesi itu sebagai senja berdarah.

Annie
Sebelumnya Blunt bilang, ”This is a song about a naughty girl..... ANNIE”

Setelah sesi ini Blunt dan seluruh band sempet ‘say goodbye’ dan masuk ke balik panggung. Semua lampu mati. Satu dua orang terdengar teriak “We want more” tapi yang lain diem aja di tempat. Tenang. Sangat yakin bahwa pertunjukan belum berakhir dan mereka akan keluar lagi. Semuanya tenang. Gak ada teriak-teriak. Gak ada tepuk tangan. Semua menunggu dengan sabar. Dan benerlah akhirnya mereka masuk kembali barengan dengan menyalanya semua lampu-lampu. Ini penonton Jakarta, Man.... dah gak laku diboongin.....lha kita semua tukang bohong kok....

1973
Simone...... Gak ada yang banyak bisa diceritain. Walau terasa bahwa ini lagu puncaknya, tapi gak beda ama banyak lagu sebelumnya penonton nyanyi lagu ini dari awal ampe selesai.

Gak inget di lagu yang mana, Blunt yang lagi main piano tiba-tiba naik di atas kursi piano dan kemudian menginjakkan satu kakinya lagi diatas piano dan mengajak semua penonton nyanyi.

Itu pianonya siapa ya? Kasian juga Javamusikindo. Hehehehe.... what a nice surprise!

So Long, Jimmy
Lagu penutup yang sangat tepat. Samar-samar denger tante-tante di belakang gue nyanyi satu lagu penuh dengan penghayatan setara Blunt. Hampir diakhir lagu, tiba-tiba Blunt lari ke pinggir panggung. Menghilang sepersekian detik dibalik loudspeaker dan....memanjat loudspeaker yang tingginya sekitar 2 meter itu. Sempat denger Tiek komentar separoh nanya, ”Dia naik dari mana?!?!” Diakhiri dengan loncatan spektakuler dari atas loudspeaker ke atas panggung.
Gue baru tersadar akan staminanya yang baik. Tidak satu lagu pun yang lepas kontrol. Keringetan memang, tapi tidak terdengar napas yang berkejar-kejaran. Hebat.

Dan tanpa jeda panjang dari lagu ini dengan senyum manis Blunt mengakhiri konser.

”This is our last tour in south east asia. Thanks for coming to this concert. Thank You for having us. We’ll meet again soon”

Dan klimaksnya adalah, Blunt ngluarin kamera pocket pribadi dari kantong celananya dan bilang “Hands in the air”. Dengan lampu mengarah ke penonton maka bertukar peranlah dia saat itu menjadi seksi dokumentasi. Di layar panggung tampil slide show foto-foto penonton dari berbagai konsernya di dunia. Emang unik nih penyanyi satu.

Penonton kita juga perlu dapet apresiasi. Menurut gue penonton konser di Jakarta adalah penonton yang baik. Sangat apresiatif, ekspresif dan kooperatif. Bahkan saat ada satu lagu yang tidak akrab di telinga penonton. Gak tau lagunya siapa. Judulnya gue lupa, tapi waktu keyboardist-nya ngajak penonton tepuk tangan, serentak tangan-tangan mengacung diudara dan bertepuk tangan. Begitu juga waktu Blunt ngajak nanyiin satu kalimat dari refrain itu. Dengan takzimnya penonton juga ikut bernyanyi.

Dan konser pun berakhir dengan manis. Semua lupa bahwa habis ini harus jalan lagi untuk menuju kendaraan-kendaraan dan para penjemput yang akan membawa pulang. Masih butuh waktu sekitar 1 jam lagi sebelum bisa mengkhayal sambil mendesah-desah







Saturday, March 22, 2008

Tentang Leluhur

Beberapa hari yang lalu, Steny, penyiar di GMHR Hard Rock FM, melemparkan pertanyaan yang sepertinya sangat sederhana tapi setelah beberapa kali dilontarkan dan coba dijawab ternyata menjadi pertanyaan yang menarik dan menggelitik (geli dong ah…).

Steny bertanya, ‘Sejauh apa loe tau atau kenal generasi keluarga diatas loe atau pendahulu loe a.k.a leluhur’. Awalnya gue ketawa denger pertanyaan itu tapi kemudian dia cerita tentang John Howard, PM Australia, yang ternyata kedua kakeknya baik dari garis keturunan ayah maupun ibunya adalah pencuri yang terpidana.

Mau gak mau, gue tergelitik juga dengan pertanyaan itu. Kebetulan pertengahan tahun lalu gue bikinin ‘buku’ untuk Opa gue dari garis nyokap dalam rangka ulang tahunnya yang ke 80, jadi dalam rangka pembuatan buku itu gue memang ‘menggali’ sejarah keluarga nyokap gue. Kebetulan juga, pagi itu gue berangkat bareng bokap yang juga denger radio. Pas iklan yang dilanjutkan lagu, gue langsung buka percakapan ama bokap.

‘Pap, aku tahu kalo bapaknya Opa itu kan namanya Namid gelarnya Datuk Djalarantau. Kalo gak salah dia itu semacam pamong praja di kampungnya gitu kan.”
‘Heeh….’
‘Terus, kalo bapaknya Oma aku cuma tau namanya Abuzar. Kalo gak salah dia itu pegawai perusahaan telekomunikasi jaman belanda, terus ibunya Oma itu guru ngaji tapi aku lupa namanya. Terus kalo bapaknya Atok[1] aku tau dia itu Kadi Besar Kerajaan Siak kan?”
‘Bukan…. Dia itu Kadi Besar Kerajaan Langkat”
‘Oh…. Hehehe…. Namanya siapa?’
‘Hamid’
‘Trus kalo ibunya Atok namanya siapa?’
‘Papa juga gak tau, soalnya Papi udah ditinggal mati ibunya waktu dia umur 11 tahun’

Kemudian sampailah gue ke bagian sejarah keluarga gue yang menurut gue cukup spektakuler.
‘Kalo nenek[2], bapaknya siapa namanya?’
‘Abdul Syukur’
‘Kerjaannya apa?’
‘Itu…Ahli batu-batuan?’
‘Batu-batuan apaan? Batu akik?’
‘Iya… dia itu tukang emas yang juga ahli permata’
‘Haaaahhhh??? Tukang emas seperti goldsmith gitu maksudnya?’
‘Iya!’
‘Cuma punya toko emas apa dia juga bikin’
‘Dia bikin dan juga punya toko emas’

Gue masih tetep gak percaya dan meragukan informasi bokap gue itu. Gue memperkirakan bokap gak pernah ketemu atau kenal dengan kakek neneknya itu dengan statusnya sebagai anak ke-8. ‘Emang papa pernah ketemu?’
‘Kalo sama Gaek[3], Papa masih ketemu tapi Inyik[4] udah meninggal waktu Papa lahir’
‘Trus papa tau dari mana kalo Buyut itu tukang emas? Nenek kan orangnya pendiem gak suka cerita-cerita’
‘Bang Aidir. Dia sempet kenal Gaek sama Inyik. Sempet foto bareng malah. Dia yang cerita’
‘Oh Om Aidir… ya kalo dia sih bisa dipercaya’
‘Jadi kamu gak percaya ama Papa?’
‘Ya abis ceritanya ‘spektakuler’ sih… tapi Papa yakin Om Aidir dapet informasi yang bener? Jangan-jangan dia itu tukang sate…. Kan namanya mirip tukang sate[5] tuh’
‘Ya bener lah! Kalo keturunan tukang sate sih mama kamu tuh. Dia kan yang dari Padang Panjang. Papa sih dari Payakumbuh, gak ada tukang sate di sana’
‘Jadi bener nih kita keturunan tukang emas? Minang amat sih….’

Jadi begitulah. Pagi ini gue menemukan satu keping yang unik lagi dari diri gue. Kayaknya sih gak banyak orang yang punya leluhur tukang emas. Tukang emas lhoo…. bukan sekadar pedagang emas. Informasi ini ternyata cukup bisa menggembirakan gue untuk beberapa hari. Dan seperti biasa ‘Anne si pengkhayal’ mulai membayangkan bagaimana ya…reaksi buyut gue yang kadi besar itu waktu anaknya bilang dia mau kawin ama anak tukang emas?


PK, 25.02.2007



[1] Panggilan cucu-cucu kepada kakek dari pihak bokap
[2] Panggilan untuk nenek dari pihak bokap gue
[3] Panggilan untuk nenek dalam bahasa minang
[4] Panggilan untuk kakek dalam bahasa minang
[5] Sate yang terkenal enak adalah Sate Mak Syukur

Today, You’re My Heroes

Pagi ini, drama senin pagi kembali terulang dalam hidup gue. Berbagai kekacauan udah mulai terasa sejak gue buka mata jam 5 pagi. Dan bener aja, akhirnya gue baru bisa berangkat dari rumah gue di kalimalang jam 7.40 padahal udah harus sampai kantor di slipi jam 9.30. Kebayang kan betapa paniknya gue. Ditambah lagi dengan supir gue telat dateng. Dan inget, ini hari senin bos!! Jadilah gue berangkat dengan kemrungsung.

Seperti biasa, tiap pagi gue selalu denger GMHR di mobil. Dalam hitungan kurang dari 10 menit gue udah ketawa ngakak padahal sebelumnya uring-uringan. Padahal saat itu Steny dan Pandji sedang ngebahas sesi IJASAH alias Ingat JAman suSAH. Dimana mereka menceritakan masa-masa tersulit dalam hidup mereka. Apa lucunya, apa serunya coba denger kisah sedih orang lain? Normally, kita gak akan ketawa-ketawa kalau denger kisah sedih, tapi itulah mereka. Mereka bisa cerita sambil tetep ketawa-ketawa dan dipenuhi komentar-komentar nggilani khas mereka itu. Ya itulah Stendji. Dengan cara sederhana mereka bisa ngajarin gue bahwa emang bener life is sucks, tapi ngomel, ngedumel, marah-marah gak akan buat hidup jadi otomatis membaik. Bahwa kita bisa mengontrol emosi kita untuk membuat kehidupan kita lebih baik. Semacam kepasarahan tanpa menyerah……

Sebenernya ini bukan kejadian pertama. Cukup sering gue mengalami perubahan mood hanya dalam hitungan menit setelah dengerin mereka gila-gilaan di radio. Menurut gue, ini sebenernya bukan hal yang sederhana. Mungkin kita melihat hidup mereka mudah dan menyenangkan. Asik karena mereka bisa mengerjakan hal yang mereka sukai. Kalau dilihat lebih jauh lagi sebenernya sih gak gampang juga. Banyak hal yang harus mereka kelola. Mulai dari mengalahkan diri sendiri untuk bangun pagi, meninggalkan tempat tidur yang nyaman. Membangun mood, baik mood diri sendiri maupun mood orang lain. Bertahan untuk tetap fokus selama 4 jam, padahal mungkin banyak kepentingan pribadi yang juga mendesak-desak harus diselesaikan.

Buat gue, apa yang mereka lakukan itu sangat berharga. Bahwa mereka punya sarana untuk itu, dibayar untuk melakukan itu, memang gak bisa dipungkiri. Tapi coba liat lagi. Banyak juga orang yang punya sarana. Banyak juga orang yang dibayar untuk mempermudah hidup orang lain. Tapi berapa banyak yang melakukannya dengan tulus. Yang melakukannya karena demi kecintaan akan kehidupan itu sendiri. Dan yang lebih asiknya, mereka melakukan ini semua tanpa pikir panjang. Tanpa niatan untuk menjadi orang yang lebih berjasa maupun lebih berharga dibandingkan yang lain. Semua begitu jujur apa adanya. Bener juga orang yang ngomong di 'film itu', "Everybody can be a hero. It doesn’t need someone special to be a hero" Cause for today, Steny and Pandji are my heroes!!!



22.07.2007
16.10
late afternoon at the ‘Monday office’