Wednesday, December 20, 2006

STRAWBERRY FIELDS

John Lennon/Paul McCartney

Let me take you down, 'cos I'm going to Strawberry Fields
Nothing is real, and nothing to get hungabout
Strawberry Fields forever

Living is easy with eyes closed, misunderstanding all you see
It's getting hard to be someone but it all works out, it doesn't matter much to me
Let me take you down, 'cos I'm going to Strawberry Fields
Nothing is real, and nothing to get hungabout
Strawberry Fields forever
No one I think is in my tree, I mean it must be high or low
That is you can't you know tune in but it's all right, that is I think it's not too bad
Let me take you down, 'cos I'm going to Strawberry Fields
Nothing is real, and nothing to get hungabout
Strawberry Fields forever
Always, no sometimes, think it's me, but you know I know when it's a dream
I think I know I mean a "Yes" but it's all wrong, that is I think I disagree
Let me take you down, 'cos I'm going to Strawberry Fields
Nothing is real, and nothing to get hungabout
Strawberry Fields forever
Strawberry Fields forever
Strawberry Fields forever

Road to Strawberry Fields

Beberapa hari yang lalu saya ngobrol panjang dengan San. Berawal dari sekadar diskusi tentang pemilihan PDA/Smartphone, seperti biasa, obrolan kami pun berakhir pada 'curhat colongan' masalah hati. San merasa sangat lelah karena hatinya terlalu penuh dengan masalah hubungannya dengan seorang wanita. Sementara saya juga sangat lelah karena mencari-cari pria (yang sesuai ‘standar’ saya tentunya…..) untuk mengisi hati saya yang kosong. Andai kami anak kecil, tentu kami bisa temper tantrum, menangis meraung-raung agar keinginan kami terpenuhi. Akhirnya kami berkesimpulan hidup sebagai orang dewasa itu melelahkan karena harus berhadapan dengan realitas yang tidak selalu sesuai dengan harapan kami. And lately reality sucks!!!

Saya kemudian berniat mengajak San untuk sejenak ‘kabur’ dari realitas. Sebelum saya sempat mengutarakan hal itu, tiba-tiba San bilang,”Gue lagi pengen pergi ke negeri dongeng nih”
“Yuk. Gue juga lagi pengen kabur nih”
“Pergi ke strawberry fields enak kali yah. Soalnya kan strawberry fields forever……… Di sana “Nothing is real, and nothing to get hungabout.” Dengan sintingnya San menyitir syair lagu beatles yang terkenal itu. Tapi berhubung saya juga malam itu sedang setengah sinting, dengan santainya saya menjawab,
“Ikut!!” Kemudian melanjutkan, “By the way, loe dah dapet alamat dan denahnya?”
“Itulah. Kayaknya musti ngajak Lennon[1]. Adeknya, Lenin[2], diem aja soalnya……” hehehe...........
Dua hari yang lalu San kirim pesan yang intinya: reality semakin suck. harus segera pergi ke strawberry fields. Saya setuju dengan pesannya. Problemnya adalah, bagaimana cara sampai ke sana. Ada yang tau alamatnya? Atau ada yang bisa bantu nunjukkin?



[1] John Lennon, mantan vokalis The Beatles
[2] Nama anjing Siberian Husky punya Lex. Anjing ganteng yang saking polosnya (untuk tidak mengatakan bodoh) sering kali tidak membantu banyak ketika keterampilan ‘keanjingannya’ dibutuhkan.

Since When I’ve become A Morning Person?

Since high school I’ve acquired a late night working habit. It’s become my routines that after I got home from school in the afternoon, I go directly to bed. Then wake up around 9.00 o’clock at night to eat my dinner. At 10.00 the rest of the family will be prepared to slumber, that’s when I start doing my homework and my other school chores. Usually I finished all those chores around 2.00 or 3.00 in the morning then go to sleep to wake up again at 5.00, take a bath and go to school at 6.00 since school started at 7.00. Those days, I attended most of my morning classes in daze. After the first break then I get my compose mentis state of mind, enough for the rest of the day till the time come home.

In my college years I was getting ‘worse’. I’ll go grumpy and bitchy for the rest of the morning to regain my usual self around lunch to launch my peak hour around 2.00 or 3.00 at noon until 7.00. Then I would go to sleep to wake up around 2.00 – 3.00 in the morning till the time I have to go to campus. I usually sleep in the car or bus that takes me to campus. The habit goes till recently.

Today I realize that recently I try to sleep early at night in order to wake up earlier. The last two days, amazingly, I woke up easily at 4.00 in the morning on a light mood and clear head. I left home before 6.00 to worship the morning sun and embrace happily the early traffic to arrive at the office in high spirit!! The realization hit me dumbstruck. Coz a part of the reason why I develop that quirky habit is because I think it’s cool to work alone at that time, when other people deep in their dream. In the hazy imagination of adolescent that habit makes me different…… cieh…… But the habit has change know and I’ve never realized it before. Like it’s developing behind my back and leave me wondering since when did I become such a morning person. I’ve become ordinary now!!! Help!!!!


11.12.2006
07.30
Early in the morning at my office!!!

Saturday, September 30, 2006

Mencari Pegawai Angkasa Pura

Siang tadi aku ngobrol dengan Lla, seorang teman, tentang betapa pentingnya suatu hubungan yang mendatangkan rasa nyaman dan aman pada diri orang-orang yang terlibat di dalamnya.
“Aku perlu merasa nyaman dan aman untuk jadi diri sendiri dalam sebuah hubungan. Aku perlu sebuah hubungan yang bisa menjadi landasan, biar aku bisa terbang setinggi mungkin untuk pencarian diriku. Tapi juga sebuah landasan yang selalu ada disana untuk aku mendarat saat bensinku sudah habis, tanpa peduli daerah mana saja yang sudah aku jelajahi untuk menemukan diriku, tanpa peduli apakah aku sudah menemukan apa yang kucari” Entah kenapa siang ini aku jadi sok filosofis.

Saat aku mengandaikan suatu hubungan yang nyaman dengan landasan terbang, entah mengapa tiba tiba terbayang wajah Geng Armani, para pengkritik terbaik dalam hidupku itu. Kalau mereka mendengar pengandaianku itu, mungkin salah satu dari mereka akan berkomentar, “Kalo gitu loe perlu cari jodoh pegawai Angkasa Pura, Ne. Soalnya diantara mereka ada orang-orang yang dilatih untuk menyiapkan landasan terbang sebaik mungkin”

Jrengjeng!

Begitulah teman-temanku. Entah mengapa mereka selalu bisa mengembalikan diriku ke kadar humor semula. Ke posisi dimana aku tetap bisa menertawakan diriku. Segetir apa pun ucapan dan perasaanku. Tapi, tentang pegawai Angkasa Pura ini, mungkin gak ada salahnya juga dicoba ya? Siapa tau memang ada diantara mereka yang memang bisa menyiapkan 'landasan terbang' bagiku.



ATR, 29.09.2006, 20.13

Untuk teman-teman sejawat
yang semakin menyadari penurunan fungsi mental diri sendiri,

"Maaf ya.... gue dah makin gak jelas nih kalo nulis"

Harga Seorang Perempuan



Setelah selesai mengikuti group exercise di sebuah pusat kebugaran, saya dan Tiek beranjak ke kamar ganti untuk mandi. Di tengah perjalanan tiba-tiba saya merasa ada yang tertinggal di ruangan group exercise tadi. Saya pun bertanya pada Tiek, “Tadi loe ngeliatin semua bawaan gue kan? Ada yang ketinggalan gak?”
”Kok gue ngerasa ada yang ketinggalan ya?”
Dengan santainya Tiek menjawab, “Apaan? Harga diri?”
Cep!
Jawaban teman yang satu ini memang tidak pernah bisa saya duga. Cerkas. Begitu katanya bahasa Indonesianya untuk mengadaptasi kata witty. Sudahlah. Kembali ke harga. Sebelum kelas dimulai, kami sempat membahas tentang semakin sulitnya perempuan seusia kami untuk menemukan pasangan hidup. Entah karena pilihan semakin sedikit, kriteria semakin rumit, atau yang paling menyebalkan adalah karena masih banyak perempuan lain yang lebih muda!!!
Kebetulan sebelumnya kami sempat mengomentari perempuan-perempuan yang berolahraga dengan rambut tergerai rapi dan mengkilat. Kami mengagumi kekuatan mereka untuk menahan panas, keringat, dan kerepotan menjaga rambut, hanya demi mampu mengibaskan rambut indah tersebut kepada instruktur saat kelas berakhir. Yang nota bene, mereka itu rata-rata adalah perempuan yang usianya lebih muda dari saya dan Tiek. Dengan sedikit sedih saya berpikir…… Yaahhh… mungkin memang itu harga yang harus dibayar seorang perempuan untuk dapat memenangkan persaingan didunia perjodohan yang keras ini. Saya hanya tidak berhenti berpikir, kapan ya ke-cerkas-an, rasa humor yang tinggi, dan kemampuan untuk selalu menertawakan diri sendiri mendapat harga lebih tinggi daripada bentuk tubuh dan rambut indah mengkilat bergelombang komplit dengan kibasannya itu?


Rasuna, 08.09.2006
Maaf kalau saya terlalu cynical…..

Friday, September 08, 2006

Tentang Bahasa

Selama ini, adik saya, sang sastrawan, seringkali geregetan saat mendengar sekelompok orang (yang biasanya berasal dari kelas sosial tertentu, dan umumnya berada pada masa dewasa muda) yang seringkali berbicara dengan menggunakan bahasa dicampur-campur. Seperti pada suatu saat ia mendengar seseorang berkata, “Aduh….. gue gak comfort nih…”, adik saya ngedumel sambil komentar, “Kenapa gak ngomomg, ‘Aduh gue gak nyaman’ aja sih?” Biasanya saya akan menimpali seenaknya, “Abis kalo bilang’ Aduh gue gak nyaman nih…..’. Ntar pertanyaann selanjutnya bisa jadi, ‘Kenapa? Eek di celana?’. Sementara kalo dia bilang ‘Aduh gak comfort nih…’ Komentar orang mungkin, ‘Lagi ada konflik yah?’ Jadi kan lebih keren tuh…..”

Belakangan teman saya, Tiek punya kebiasaan konyol juga soal bahasa ini. Dia sekarang suka dengan seenaknya menerjemahkan ungkapan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Seperti ketika saya melihat ia membaca sebuah majalah wanita dewasa yang tagline-nya sudah sangat terkenal saya berkomentar, “Wah lo fun fearless female, nih……” Dengan entengnya dia jawab. “Oh gerombolan perempuan lucu dan tidak penakut itu yaaaahh……” Saat kami berpakaian setelah selesai latihan di gym, dia mengomentari bra yang saya pakai. “Bra-mu bagus. Pake rahasia victoria ya?” Sejenak saya bengong karena gak ngerti apa yang dia omongin. Setelah dia senyum usil, saya baru ngerti bahwa yang dimaksudnya adalah apakah bra saya keluaran merek bra yang cukup terkenal saat ini. Setelah itu, saya baru bisa ketawa ngakak. Aduh…… gimana kalo mereka harus hidup sehari-hari bareng Putri Indonesia ya??? :D


ATR
06.09.2006

Tentang Sebuah Jawaban

Terjawab sudah. Akhirnya kutemukan sebuah jawaban tentang keenggananku selama ini untuk menyambut tawarannya membina sebuah hubungan yang penuh makna. Berawal dari sebuah SMS sederhana, sarana komunikasi yang biasanya kami gunakan, hingga diakhir komunikasi, dia mencela pemikiranku yang kunilai biasa-biasa saja. Ternyata celaannya menimbulkan berbagai emosi dalam diriku. Berbagai rasa mulai rasa bersalah, malu dan tidak nyaman bercampur aduk dalam dadaku. Hingga diluar kemauanku, otakku memutar ulang berbagai rekaman dari ‘tarung debat’ kami selama ini. Ternyata, bila ingatan tidak menipu, aku baru menyadari bahwa selama ini aku sering kali berada dalam posisi inferior. Akulah si lemot, sementara dia adalah sang filsuf yang mengkritisi segala keaadan dunia ini.

Kuakui ketertarikanku padanya memang berawal dari hobi mind sparring kami. Pernyataan dan jawabannya yang witty ibarat magnet bagi otak dan hatiku. Ditambah dengan kecocokan kimia ragawi kami, serasa lengkaplah kecocokan itu. Tapi, bila semua itu harus dibayar dengan upayaku untuk terus-menerus menjaga diri agar senantiasa cerdas, senantiasa waspada menghadapi jebakan adu tarungnya, rasanya bank hatiku akan pailit juga .

Selama ini seringkali kutanamkan dalam diri tentang kriteria pasangan hidupku. Tidak muluk-muluk ujarku selalu. Aku hanya mengharapkan orang yang dapat membuatku nyaman dan aman untuk berkembang bersamanya. Selama ini kupikir sudah kutemukan kecocokan itu padanya. Ternyata mind compatibility, kecocokan hati ditambah kimia ragawi bukanlah jawaban mutlaknya. Ternyata aku masih butuh bumbu lain. Aku butuh penghargaan dan kesetaraan dari darinya. Kelapangannya untuk menerimaku apa adanya. Aku butuh dukungannya untuk merasa nyaman dan aman mengekspresikan diriku dan pikiranku apa adanya, tanpa perlu disensor. Tidak seperti saat ini, ketika kuevaluasi, seringkali kecocokan otak dan hati menguap entah kemana hanya meninggalkan kecocokan kimia ragawi yang sering kali dipandu oleh nafsu.

Ketika kenyataan ini mulai mengendap dalam diri, mau tidak mau aku merasa sedih. Aku kembali tidak mampu mempertahankan sebuah hubungan, apalagi hubunganku dengannya merupakan satu hubungan yang cukup besar maknanya dalam hidupku dan sudah kami jalin cukup lama. Banyak sudah pembelajaran yang kudapat darinya dan hubungan ini. Tapi di sisi lain ada satu jenis emosi yang melatari hatiku. Lega. Finally I got a closure. A good one actually, eventhough there is sadness in the sideline. Bye love…..


MTA. 02092006
17.35

Sunday, April 30, 2006

Blog-o-blog-o-blog

Fenomena blog mulai saya kenal ketika Tink memberitahu saya tentang tulisan Dih, teman kami, di blog miliknya. Ia kemudian memberi web address dari blog-nya Dih. Karena memang gaya menulis Dih terbilang bikin kangen akhirnya saya akses juga blog miliknya tersebut. Tepat seperti dugaan saya, tulisan Dih di blognya sangat menarik.

Sebagai orang yang latah terhadap segala hal yang berbau ‘trend’ dan memiliki bakat banci tampil yang lumayan besar, saya pun gak mau ketinggalan dan segera membuat blog. Tapi karena memang berawal dari ikut-ikutan, setelah saya dapat ‘jatah’ dari jasa blog gratisan itu, saya cuma bengong dan gak tau blog ini akan jadi apa. Walhasil menganggur lah blog itu.

Sampai suatu hari adik saya bercerita bahwa ia menyimpan resep-resep wasiat keluarga besar ibu saya di blog miliknya. Saya juga melihat ia menyimpan esai-esai yang dibuatnya untuk kepentingan mendaftar program magister di blog yang sama. Pada saat yang hampir bersamaan, Dih bercerita mengenai sejumlah blog milik beberapa orang profesor di bidang psikologi yang mempublikasikan penelitian mereka dan membiarkan pembacanya menggunakan hasil penelitian mereka yang canggih tersebut. Hei!! I’ve got an interesting live too! Yah saya kemudian baru sadar kalau bidang pekerjaan saya cukup menarik dan alhamdulillah saya juga diberkahi kehidupan yang berwarna-warni. Mungkin ada orang lain yang berminat mengetahuinya. Kenapa saya tidak mencoba berbagi? Siapa tau ada yang bisa belajar dari kehidupan saya. Atau, bisa saja ada orang yang mau mengajari saya tentang hidup.

Maka jadilah saya tetapkan blog ini menjadi dinding yang bercerita tentang berbagai aspek kehidupan saya. Kemudian berharap, bila kehidupan itu berada dalam bentuk tulisan, saya dapat mempelajarinya secara lebih baik. Sukur-sukur, yang belajar gak cuma saya……….


KBS, 30 April 2006
01.24