Saturday, September 30, 2006

Mencari Pegawai Angkasa Pura

Siang tadi aku ngobrol dengan Lla, seorang teman, tentang betapa pentingnya suatu hubungan yang mendatangkan rasa nyaman dan aman pada diri orang-orang yang terlibat di dalamnya.
“Aku perlu merasa nyaman dan aman untuk jadi diri sendiri dalam sebuah hubungan. Aku perlu sebuah hubungan yang bisa menjadi landasan, biar aku bisa terbang setinggi mungkin untuk pencarian diriku. Tapi juga sebuah landasan yang selalu ada disana untuk aku mendarat saat bensinku sudah habis, tanpa peduli daerah mana saja yang sudah aku jelajahi untuk menemukan diriku, tanpa peduli apakah aku sudah menemukan apa yang kucari” Entah kenapa siang ini aku jadi sok filosofis.

Saat aku mengandaikan suatu hubungan yang nyaman dengan landasan terbang, entah mengapa tiba tiba terbayang wajah Geng Armani, para pengkritik terbaik dalam hidupku itu. Kalau mereka mendengar pengandaianku itu, mungkin salah satu dari mereka akan berkomentar, “Kalo gitu loe perlu cari jodoh pegawai Angkasa Pura, Ne. Soalnya diantara mereka ada orang-orang yang dilatih untuk menyiapkan landasan terbang sebaik mungkin”

Jrengjeng!

Begitulah teman-temanku. Entah mengapa mereka selalu bisa mengembalikan diriku ke kadar humor semula. Ke posisi dimana aku tetap bisa menertawakan diriku. Segetir apa pun ucapan dan perasaanku. Tapi, tentang pegawai Angkasa Pura ini, mungkin gak ada salahnya juga dicoba ya? Siapa tau memang ada diantara mereka yang memang bisa menyiapkan 'landasan terbang' bagiku.



ATR, 29.09.2006, 20.13

Untuk teman-teman sejawat
yang semakin menyadari penurunan fungsi mental diri sendiri,

"Maaf ya.... gue dah makin gak jelas nih kalo nulis"

Harga Seorang Perempuan



Setelah selesai mengikuti group exercise di sebuah pusat kebugaran, saya dan Tiek beranjak ke kamar ganti untuk mandi. Di tengah perjalanan tiba-tiba saya merasa ada yang tertinggal di ruangan group exercise tadi. Saya pun bertanya pada Tiek, “Tadi loe ngeliatin semua bawaan gue kan? Ada yang ketinggalan gak?”
”Kok gue ngerasa ada yang ketinggalan ya?”
Dengan santainya Tiek menjawab, “Apaan? Harga diri?”
Cep!
Jawaban teman yang satu ini memang tidak pernah bisa saya duga. Cerkas. Begitu katanya bahasa Indonesianya untuk mengadaptasi kata witty. Sudahlah. Kembali ke harga. Sebelum kelas dimulai, kami sempat membahas tentang semakin sulitnya perempuan seusia kami untuk menemukan pasangan hidup. Entah karena pilihan semakin sedikit, kriteria semakin rumit, atau yang paling menyebalkan adalah karena masih banyak perempuan lain yang lebih muda!!!
Kebetulan sebelumnya kami sempat mengomentari perempuan-perempuan yang berolahraga dengan rambut tergerai rapi dan mengkilat. Kami mengagumi kekuatan mereka untuk menahan panas, keringat, dan kerepotan menjaga rambut, hanya demi mampu mengibaskan rambut indah tersebut kepada instruktur saat kelas berakhir. Yang nota bene, mereka itu rata-rata adalah perempuan yang usianya lebih muda dari saya dan Tiek. Dengan sedikit sedih saya berpikir…… Yaahhh… mungkin memang itu harga yang harus dibayar seorang perempuan untuk dapat memenangkan persaingan didunia perjodohan yang keras ini. Saya hanya tidak berhenti berpikir, kapan ya ke-cerkas-an, rasa humor yang tinggi, dan kemampuan untuk selalu menertawakan diri sendiri mendapat harga lebih tinggi daripada bentuk tubuh dan rambut indah mengkilat bergelombang komplit dengan kibasannya itu?


Rasuna, 08.09.2006
Maaf kalau saya terlalu cynical…..

Friday, September 08, 2006

Tentang Bahasa

Selama ini, adik saya, sang sastrawan, seringkali geregetan saat mendengar sekelompok orang (yang biasanya berasal dari kelas sosial tertentu, dan umumnya berada pada masa dewasa muda) yang seringkali berbicara dengan menggunakan bahasa dicampur-campur. Seperti pada suatu saat ia mendengar seseorang berkata, “Aduh….. gue gak comfort nih…”, adik saya ngedumel sambil komentar, “Kenapa gak ngomomg, ‘Aduh gue gak nyaman’ aja sih?” Biasanya saya akan menimpali seenaknya, “Abis kalo bilang’ Aduh gue gak nyaman nih…..’. Ntar pertanyaann selanjutnya bisa jadi, ‘Kenapa? Eek di celana?’. Sementara kalo dia bilang ‘Aduh gak comfort nih…’ Komentar orang mungkin, ‘Lagi ada konflik yah?’ Jadi kan lebih keren tuh…..”

Belakangan teman saya, Tiek punya kebiasaan konyol juga soal bahasa ini. Dia sekarang suka dengan seenaknya menerjemahkan ungkapan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Seperti ketika saya melihat ia membaca sebuah majalah wanita dewasa yang tagline-nya sudah sangat terkenal saya berkomentar, “Wah lo fun fearless female, nih……” Dengan entengnya dia jawab. “Oh gerombolan perempuan lucu dan tidak penakut itu yaaaahh……” Saat kami berpakaian setelah selesai latihan di gym, dia mengomentari bra yang saya pakai. “Bra-mu bagus. Pake rahasia victoria ya?” Sejenak saya bengong karena gak ngerti apa yang dia omongin. Setelah dia senyum usil, saya baru ngerti bahwa yang dimaksudnya adalah apakah bra saya keluaran merek bra yang cukup terkenal saat ini. Setelah itu, saya baru bisa ketawa ngakak. Aduh…… gimana kalo mereka harus hidup sehari-hari bareng Putri Indonesia ya??? :D


ATR
06.09.2006

Tentang Sebuah Jawaban

Terjawab sudah. Akhirnya kutemukan sebuah jawaban tentang keenggananku selama ini untuk menyambut tawarannya membina sebuah hubungan yang penuh makna. Berawal dari sebuah SMS sederhana, sarana komunikasi yang biasanya kami gunakan, hingga diakhir komunikasi, dia mencela pemikiranku yang kunilai biasa-biasa saja. Ternyata celaannya menimbulkan berbagai emosi dalam diriku. Berbagai rasa mulai rasa bersalah, malu dan tidak nyaman bercampur aduk dalam dadaku. Hingga diluar kemauanku, otakku memutar ulang berbagai rekaman dari ‘tarung debat’ kami selama ini. Ternyata, bila ingatan tidak menipu, aku baru menyadari bahwa selama ini aku sering kali berada dalam posisi inferior. Akulah si lemot, sementara dia adalah sang filsuf yang mengkritisi segala keaadan dunia ini.

Kuakui ketertarikanku padanya memang berawal dari hobi mind sparring kami. Pernyataan dan jawabannya yang witty ibarat magnet bagi otak dan hatiku. Ditambah dengan kecocokan kimia ragawi kami, serasa lengkaplah kecocokan itu. Tapi, bila semua itu harus dibayar dengan upayaku untuk terus-menerus menjaga diri agar senantiasa cerdas, senantiasa waspada menghadapi jebakan adu tarungnya, rasanya bank hatiku akan pailit juga .

Selama ini seringkali kutanamkan dalam diri tentang kriteria pasangan hidupku. Tidak muluk-muluk ujarku selalu. Aku hanya mengharapkan orang yang dapat membuatku nyaman dan aman untuk berkembang bersamanya. Selama ini kupikir sudah kutemukan kecocokan itu padanya. Ternyata mind compatibility, kecocokan hati ditambah kimia ragawi bukanlah jawaban mutlaknya. Ternyata aku masih butuh bumbu lain. Aku butuh penghargaan dan kesetaraan dari darinya. Kelapangannya untuk menerimaku apa adanya. Aku butuh dukungannya untuk merasa nyaman dan aman mengekspresikan diriku dan pikiranku apa adanya, tanpa perlu disensor. Tidak seperti saat ini, ketika kuevaluasi, seringkali kecocokan otak dan hati menguap entah kemana hanya meninggalkan kecocokan kimia ragawi yang sering kali dipandu oleh nafsu.

Ketika kenyataan ini mulai mengendap dalam diri, mau tidak mau aku merasa sedih. Aku kembali tidak mampu mempertahankan sebuah hubungan, apalagi hubunganku dengannya merupakan satu hubungan yang cukup besar maknanya dalam hidupku dan sudah kami jalin cukup lama. Banyak sudah pembelajaran yang kudapat darinya dan hubungan ini. Tapi di sisi lain ada satu jenis emosi yang melatari hatiku. Lega. Finally I got a closure. A good one actually, eventhough there is sadness in the sideline. Bye love…..


MTA. 02092006
17.35