Memiliki anak yang sehat,
cerdas dan berprestasi adalah dambaan semua orang tua. Apalagi bila prestasi si
anak sedemikian menonjol dibandingkan teman-teman seusianya. Namun bila harapan
ini tidak tercapai, atau prestasi yang tadinya dibanggakan secara
perlahan-lahan menurun, kekecewaan dan kecemasan tak urung menghampiri orang
tua. Ditambah lagi dengan perilaku anak yang kerap tidak stabil. Saat bermain game komputer ia bisa bertahan cukup
lama bahkan bisa tidak beralih bila tidak dipaksa, namun di lain waktu sang
anak sedemikian tidak tenang bahkan untuk menunggu orang tua selesai membacakan
cerita baginya. Kebingungan juga kerap melanda ketika melihat si jagoan yang
duduk di kelas 3 Sekolah Dasar dapat menceritakan jalannya pertandingan basket
NBA secara runtut lengkap nama-nama pemain grup kesayangannya, padahal tidak
lebih dari lima belas menit yang lalu ia ditegur ibunya karena lupa isi pesan
nenek yang disampaikan lewat telepon.
Tak jarang orang tua merasa jengkel dan serba salah dengan
semua kejadian ini. Di satu sisi, sikap si anak menguras habis kesabaran orang
tua, di sisi lain tidak tega rasanya melihat ia sedemikian keras menghapalkan
butir-butir sila dalam Pancasila tanpa hasil yang memuaskan. Berbagai cara
rasanya sudah ditempuh sampai akhirnya ketidaksabaran mencapai titik puncaknya.
Kemarahan, kecaman dan cercaan pun kemudian terlontar kepada sang anak.
Sayangnya si anak malah semakin bingung dengan kemarahan orang tuanya.
Seringkali bahkan anak tidak tahu mengapa orang tuanya marah dan mengecam. Ia
merasa sudah memberikan usaha yang terbaik, namun hasil yang memuaskan memang
tak kunjung diperolehnya. Lingkaran masalah yang tak berujung-pangkal ini
kemudian sering kali berakhir dengan diberikannya cap (label) bodoh, malas,
tidak bertanggung jawab kepada si anak.
Dalam evaluasi psikologis, seringkali ditemukan bahwa
anak-anak ini ternyata memiliki tingkat kecerdasan diatas rata-rata bahkan
tidak jarang yang tergolong superior. Sayangnya mereka ini memiliki kendala
untuk mencapai prestasi yang optimal sesuai dengan potensinya. Anak-anak dengan gambaran masalah seperti
inilah yang kemudian disebut sebagai anak yang memiliki masalah kesulitan belajar. Disini dapat disimpulkan bahwa anak-anak dengan kesulitan belajar
adalah anak-anak dengan kecerdasan yang tergolong rata-rata, bahkan
terkadang bisa tergolong superior, namun mengalami hambatan atau gangguan
pemrosesan informasi sehingga pencapaian akademisnya tidak sesuai dengan
potensi yang dimiliki. Menurut American
Psychiatric Associaton (dalam DSM IV, 1994) kesulitan belajar terjadi pada
sekitar 10% anak pada populasi. Kurang lebih 40% kasus putus sekolah di Amerika
disebabkan oleh masalah kesulitan belajar. Tidak tertanganinya masalah
kesulitan belajar ini dapat memperbesar resiko
timbulnya berbagai gangguan pada saat si anak dewasa. Mulai dari
kesulitan meneruskan pendidikan, kesulitan mendapatkan pekerjaan, sampai
masalah-masalah kriminalitas dan hukum.
Penyebab timbulnya masalah kesulitan belajar belum dapat
dipetakan secara jelas sampai saat ini. Beberapa teori menyebutkan tentang
adanya kelainan neurologis ringan (minimal brain disorder), masalah
pada pembagian fungsi otak kanan dan otak kiri, sampai akibat kesalahan dalam
sistem pengajaran. Apapun penyebab timbulnya kesulitan belajar, hal ini
kemudian menjadi tidak penting lagi ketika berhadapan dengan tuntutan akademis
sang anak. Penanganan yang tepatlah yang lebih dibutuhkan oleh anak. Pengalaman
menunjukkan ketika masalah kesulitan belajar ditemukenali lebih dini dan segera
ditangani dengan cara pengajaran yang khusus (special education), umumnya kendala ini dapat tertangani dengan
baik.
Kendala
kemudian timbul pada pendeteksian masalah kesulitan belajar ini. Dalam kegiatan belajar sehari-hari umumnya
orang tua dan guru mengalami kesulitan dalam mengenali adanya gangguan
kesulitan belajar. Secara fisik, anak-anak ini terlihat seperti anak normal
biasa. Sebenarnya terdapat beberapa karakteristik pada anak dengan kesulitan
belajar yang dapat diwaspadai oleh orang tua dan guru. Walaupun demikian, perlu
diingat bahwa karakteristik ini lebih berupa akibat dan bukanlah
penyebab kesulitan belajar. Karakteristik tersebut adalah sebagai
berikut:
Pada anak Pra-sekolah
- Terlambat bicara bila dibandingkan dengan anak-anak lain
- Masalah dalam pengucapan kata-kata (artikulasi)
- Pemahaman kosa kata sangat terbatas, anak sering terlihat kesulitan menemukan kata-kata yang tepat.
- Kesulitan melagukan pantun dan sajak (rhyming)
- Kesulitan dalam mempelajari nama-nama hari dalam seminggu, mempelajari angka dan huruf
- Tidak bisa tenang dan perhatian sangat mudah teralih
- Kesulitan untuk berinteraksi dengan teman sebaya
- Kesulitan untuk memahami instruksi kompleks
Pada anak Sekolah Dasar
- Lambat dalam mempelajari hubungan antara tulisan kata dengan bunyinya
- Melakukan kesalahan-kesalahan secara konsisten dalam membaca dan mengeja seperti: kesulitan membedakan huruf-huruf yang mirip (b dengan d, m dengan w), atau masalah dalam letak susunan huruf (saku menjadi suka atau kaus)
- Kebingungan dalam menggunakan tanda-tanda operasi hitungan (+, - , x, /, =)
- Kesulitan mengingat materi yang telah dihapalkan beberapa waktu sebelumnya
- Kesulitan mempelajari hal baru
- Impulsif, kesulitan untuk membuat perencanaan
- Kendala dalam penggunaan alat-alat tulis, misalnya cara memegang pensil yang tidak benar, sulit menggunakan gunting, dan lain-lain
- Kesulitan mempelajari konsep waktu (besok, kemarin, lusa, dan lain-lain)
- Koordinasi gerak yang buruk, tidak waspada terhadap lingkungan sekitar, sehingga mudah jatuh, tersandung, dan terluka.
Sayangnya penanganan masalah kesulitan belajar ini tidaklah semudah
mengenali karakteristiknya. Tidak semua anak dengan masalah kesulitan belajar memiliki
seluruh karakteristik di atas. Sementara beberapa diantara karakteristik diatas
juga merupakan ciri-ciri dari jenis gangguan yang lainnya. Tidak jarang,
masalah kesulitan belajar yang berlarut-larut juga menyebabkan timbulnya
berbagai gangguan lainnya seperti masalah emosional, konsep diri dan kenakalan
sehingga karakteristik kesulitan belajar menjadi tidak khas pada anak tersebut.
Belum lagi soal perencanaan program terapi, rencana pendidikan (special need education), perencanaan home program, dan lain sebagainya. Untuk itu sangat penting
dipahami bahwa penanganan masalah kesulitan belajar mutlak dilakukan oleh tenaga
profesional yang memiliki keahlian dalam bidang ini, seperti psikolog anak
atau psikolog yang mendalami masalah pendidikan. Bila di sekolah terdapat psikolog sekolah, mintalah evaluasi psikologis
darinya. Bila di sekolah tidak terdapat psikolog sekolah, datangilah
klinik-klinik psikologi yang kini sudah terdapat diberbagai tempat.
Waspadailah segala kemungkinan kesulitan belajar pada anak. Segera
konsultasikan anak bila ditemukan adanya karakteristik kesulitan belajar, walau
seringan apapun. Bahkan tidak ada salahnya bila konsultasi pendidikan dilakukan
sebelum anak mengalami masalah belajar dan bersekolah. Bukankah lebih baik
mencegah daripada mengobati?
Daftar Pustaka:
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th ed.(1994), Washington DC :
American Psychiatrist Association
Sattler, Jerome M. (1992), Assessment of Children, 3rd
ed, San Diego :
Jerome M. Sattler, Publisher, Inc.
Wong, Bernice Y.L.(1996), The ABC’s of Learning Disabilities, San Diego, California:
Academic Press