Wednesday, May 30, 2012

Kenali Kesulitan Belajar Sejak Dini


        Memiliki anak yang sehat, cerdas dan berprestasi adalah dambaan semua orang tua. Apalagi bila prestasi si anak sedemikian menonjol dibandingkan teman-teman seusianya. Namun bila harapan ini tidak tercapai, atau prestasi yang tadinya dibanggakan secara perlahan-lahan menurun, kekecewaan dan kecemasan tak urung menghampiri orang tua. Ditambah lagi dengan perilaku anak yang kerap tidak stabil. Saat bermain game komputer ia bisa bertahan cukup lama bahkan bisa tidak beralih bila tidak dipaksa, namun di lain waktu sang anak sedemikian tidak tenang bahkan untuk menunggu orang tua selesai membacakan cerita baginya. Kebingungan juga kerap melanda ketika melihat si jagoan  yang duduk di kelas 3 Sekolah Dasar dapat menceritakan jalannya pertandingan basket NBA secara runtut lengkap nama-nama pemain grup kesayangannya, padahal tidak lebih dari lima belas menit yang lalu ia ditegur ibunya karena lupa isi pesan nenek yang disampaikan lewat telepon.
             Tak jarang orang tua merasa jengkel dan serba salah dengan semua kejadian ini. Di satu sisi, sikap si anak menguras habis kesabaran orang tua, di sisi lain tidak tega rasanya melihat ia sedemikian keras menghapalkan butir-butir sila dalam Pancasila tanpa hasil yang memuaskan. Berbagai cara rasanya sudah ditempuh sampai akhirnya ketidaksabaran mencapai titik puncaknya. Kemarahan, kecaman dan cercaan pun kemudian terlontar kepada sang anak. Sayangnya si anak malah semakin bingung dengan kemarahan orang tuanya. Seringkali bahkan anak tidak tahu mengapa orang tuanya marah dan mengecam. Ia merasa sudah memberikan usaha yang terbaik, namun hasil yang memuaskan memang tak kunjung diperolehnya. Lingkaran masalah yang tak berujung-pangkal ini kemudian sering kali berakhir dengan diberikannya cap (label) bodoh, malas, tidak bertanggung jawab kepada si anak.
          Dalam evaluasi psikologis, seringkali ditemukan bahwa anak-anak ini ternyata memiliki tingkat kecerdasan diatas rata-rata bahkan tidak jarang yang tergolong superior. Sayangnya mereka ini memiliki kendala untuk mencapai prestasi yang optimal sesuai dengan potensinya. Anak-anak dengan gambaran masalah seperti inilah yang kemudian disebut sebagai anak yang memiliki masalah kesulitan belajar. Disini dapat disimpulkan bahwa anak-anak dengan kesulitan belajar adalah anak-anak dengan kecerdasan yang tergolong rata-rata, bahkan terkadang bisa tergolong superior, namun mengalami hambatan atau gangguan pemrosesan informasi sehingga pencapaian akademisnya tidak sesuai dengan potensi yang dimiliki. Menurut American Psychiatric Associaton (dalam DSM IV, 1994) kesulitan belajar terjadi pada sekitar 10% anak pada populasi. Kurang lebih 40% kasus putus sekolah di Amerika disebabkan oleh masalah kesulitan belajar. Tidak tertanganinya masalah kesulitan belajar ini dapat memperbesar resiko  timbulnya berbagai gangguan pada saat si anak dewasa. Mulai dari kesulitan meneruskan pendidikan, kesulitan mendapatkan pekerjaan, sampai masalah-masalah kriminalitas dan hukum.
          Penyebab timbulnya masalah kesulitan belajar belum dapat dipetakan secara jelas sampai saat ini. Beberapa teori menyebutkan tentang adanya kelainan neurologis ringan (minimal brain disorder), masalah pada pembagian fungsi otak kanan dan otak kiri, sampai akibat kesalahan dalam sistem pengajaran. Apapun penyebab timbulnya kesulitan belajar, hal ini kemudian menjadi tidak penting lagi ketika berhadapan dengan tuntutan akademis sang anak. Penanganan yang tepatlah yang lebih dibutuhkan oleh anak. Pengalaman menunjukkan ketika masalah kesulitan belajar ditemukenali lebih dini dan segera ditangani dengan cara pengajaran yang khusus (special education), umumnya kendala ini dapat tertangani dengan baik.
Kendala kemudian timbul pada pendeteksian masalah kesulitan belajar ini. Dalam kegiatan belajar sehari-hari umumnya orang tua dan guru mengalami kesulitan dalam mengenali adanya gangguan kesulitan belajar. Secara fisik, anak-anak ini terlihat seperti anak normal biasa. Sebenarnya terdapat beberapa karakteristik pada anak dengan kesulitan belajar yang dapat diwaspadai oleh orang tua dan guru. Walaupun demikian, perlu diingat bahwa karakteristik ini lebih berupa akibat dan bukanlah penyebab kesulitan belajar. Karakteristik tersebut adalah sebagai berikut:

Pada anak Pra-sekolah
  •       Terlambat bicara bila dibandingkan dengan anak-anak lain
  •       Masalah dalam pengucapan kata-kata (artikulasi)
  •      Pemahaman kosa kata sangat terbatas, anak sering terlihat kesulitan menemukan kata-kata yang        tepat.
  •       Kesulitan melagukan pantun dan sajak (rhyming)
  •       Kesulitan dalam mempelajari nama-nama hari dalam seminggu, mempelajari angka dan huruf
  •       Tidak bisa tenang dan perhatian sangat mudah teralih
  •       Kesulitan untuk berinteraksi dengan teman sebaya
  •       Kesulitan untuk memahami instruksi kompleks
Pada anak Sekolah Dasar
  •       Lambat dalam mempelajari hubungan antara tulisan kata dengan bunyinya
  •     Melakukan kesalahan-kesalahan secara konsisten dalam membaca dan mengeja seperti: kesulitan membedakan huruf-huruf yang mirip (b dengan d, m dengan w), atau masalah dalam letak susunan huruf (saku menjadi suka atau kaus)
  •       Kebingungan dalam menggunakan tanda-tanda operasi hitungan (+, - , x, /, =)
  •       Kesulitan mengingat materi yang telah dihapalkan beberapa waktu sebelumnya
  •       Kesulitan mempelajari hal baru
  •       Impulsif, kesulitan untuk membuat perencanaan
  •     Kendala dalam penggunaan alat-alat tulis, misalnya cara memegang pensil yang tidak benar, sulit menggunakan gunting, dan lain-lain
  •       Kesulitan mempelajari konsep waktu (besok, kemarin, lusa, dan lain-lain)
  •      Koordinasi gerak yang buruk, tidak waspada terhadap lingkungan sekitar, sehingga mudah jatuh, tersandung, dan terluka.


Sayangnya penanganan masalah kesulitan belajar ini tidaklah semudah mengenali karakteristiknya. Tidak semua anak dengan masalah kesulitan belajar memiliki seluruh karakteristik di atas. Sementara beberapa diantara karakteristik diatas juga merupakan ciri-ciri dari jenis gangguan yang lainnya. Tidak jarang, masalah kesulitan belajar yang berlarut-larut juga menyebabkan timbulnya berbagai gangguan lainnya seperti masalah emosional, konsep diri dan kenakalan sehingga karakteristik kesulitan belajar menjadi tidak khas pada anak tersebut. Belum lagi soal perencanaan program terapi, rencana pendidikan (special need education), perencanaan home program, dan lain sebagainya. Untuk itu sangat penting dipahami bahwa penanganan masalah kesulitan belajar mutlak dilakukan oleh tenaga profesional yang memiliki keahlian dalam bidang ini, seperti psikolog anak atau psikolog yang mendalami masalah pendidikan. Bila di sekolah terdapat psikolog sekolah, mintalah evaluasi psikologis darinya. Bila di sekolah tidak terdapat psikolog sekolah, datangilah klinik-klinik psikologi yang kini sudah terdapat diberbagai tempat.
Waspadailah segala kemungkinan kesulitan belajar pada anak. Segera konsultasikan anak bila ditemukan adanya karakteristik kesulitan belajar, walau seringan apapun. Bahkan tidak ada salahnya bila konsultasi pendidikan dilakukan sebelum anak mengalami masalah belajar dan bersekolah. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?



Daftar Pustaka:

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th ed.(1994), Washington DC: American Psychiatrist Association

Sattler, Jerome M. (1992), Assessment of Children, 3rd ed, San Diego: Jerome M. Sattler, Publisher, Inc.

Wong, Bernice Y.L.(1996), The ABC’s of Learning Disabilities, San Diego, California: Academic Press

Thursday, September 30, 2010

Mau Percaya yang Mana? Ceritaku atau Ceritamu?

Senin, sore menjelang hari semakin tua

“Kamu ujian lisan dengan saya, Dr. SukaMakan, dan Prof. RatuCariPerhatian ya….”

‘Aku nanti malam jaga, Dek. Di emergency. Gak mungkin aku sempat belajar. Lagian aku gak pernah dapat informasi bahwa di bagian ini ujiannya akhirnya berbentuk ujian lisan. Apa jangan-jangan dia Dr. Banci itu cuma mau gertak aku ya?’

‘Kamu jangan berharap terlalu banyak, Mas. Aku kan sudah ingatkan kamu. Tidak ada program yang pasti dan terencana di FK - Universitas Menara Gading ini. Bersiaplah untuk kemungkinan terburuk dan manipulasi terbusuk di muka bumi ini’

‘Kok kamu bilang gitu?’

‘Aku selalu diajari oleh kenyataan bahwa manusia pada dasarnya buruk dan berpihak pada kejahatan. Mbah Freud juga bilang gitu kok’

‘Tapi aku gak akan sanggup belajar. Aku baru selesai jaga jam 7 pagi hari Selasa. Setelah visit pasien, aku harus magang di klinik dengan Prof. RatuCariPerhatian itu sampai sore. Darimana lagi tenagaku untuk belajar?’

‘Ya sudah. Coba sebisamulah…Toh aku sudah minta kamu untuk bersiap kan….’

Selasa, saat hari menjelang berakhir

Suamiku terduduk dengan mata terpejam sementara sebuah buku terbuka dihadapannya. Selang 5 menit dia tersentak terbangun. ‘Aku sudah gak sanggup belajar lagi,Dek. Percuma juga aku paksakan. Gak kan masuk juga ke otakku.’

‘Ya sudah….istirahatlah. Aku selesaikan tulisanku ini sebentar ya….. Setelah itu aku temenin kamu tidur’

‘Que serra-serra aja ya dek….’

‘Whatever will be… Will be. Ingat! Everything happen for a reason.’

Rabu, hari belum habis setengahnya

(pesan pendek via HP) [aku jadi ujian. Beneran keroyokan ujiannya]

“Sebelumnya, perlu saya informasikan bahwa kamu dan 1 orang rekanmu yang akan ujian hari ini adalah 2 orang yang mendapat nilai terendah dari ujian-ujian yang selama ini diselenggarakan. Maka dengan berat hati, kami terpaksa menguji kalian berdua secara lisan”

Apakah sebelum ini pernah dinyatakan bahwa ujian-ujian mendadak selama ini adalah bagian dari penilaian untuk menjadi dokter spesialis? Tidak.


Apakah pernah diumumkan berapa nilai dari tiap para peserta didik? Tidak.

Apakah ada umpan balik terhadap peserta didik atas ujian-ujian yang selama ini diberikan? Tidak.

Adakah jadwal yang pasti mengenai program pendidikan calon dokter spesialis ini? Tidak.


“Silakan masuk. Kami akan mengumumkan hasil ujianmu”

“Dengan sangat berat hati terpaksa kami menyatakan bahwa kamu tidak lulus dari bagian ini dan kamu harus mengulang dengan waktu penuh di bagian ini tiga bulan dari sekarang”

‘Baik, Prof’

‘Yaaahhh….gimana ya….kamu memang tidak berhasil menjawab hampir sebagaian besar dari pertanyaan kami tadi. Kami juga sebenarnya gak enak sih….”

‘Iya, Prof.’

“Yaaahh…gak pa-pa lah kamu mengulang lagi. Itung-itung memperdalam. Selama ini kan kamu lebih banyak mendalami bidang non medis. Lagipula sebelum ini kamu kan mendalami pendidikan manajemen. Apalah artinya pendidikan itu dibandingkan ilmu maha luhur yang kami ajarkan disini. Pasti kamu kesulitan kan mempelajari ilmu maha luhur kami.”

‘Oh….begitu ya, Dr. SukaMakan’

“Iya begitu….lagian kenapa sih kamu gak bias jawab pertanyaan kami?’

‘Saya memang kurang belajar,Prof’

“kenapa bisa kurang belajar? Emang kamu harus nyuci ya di rumah? Atau di suruh masak ya sama istrimu? Hehehehe…...eh ini bercanda lho… nanti kamu sampein lagi ke istrimu”

‘Ya gak lah, Prof. Istri saya gak serendah itu kok budipekertinya’

“Atau kamu stress ya? Gak bisa ya kamu menyesuaikan diri di sini? Saya dengar kamu juga gak bisa berbaur dengan teman-temanmu. Terus saya dengar kamu sampai tidur di lapangan parkir jam 3 pagi ya? Ada apa? Kamu takut pulang ke istrimu di rumah?”

‘Tidak, dok. Itu hanya cerita bikinan yang sangat dipercaya oleh Dr. Banci saja, Dok.’

“Ya memang sangat mungkin sih kamu gak bisa menyesuaikan diri di sini. Kamu bisa lho konsultasi dengan konsulen-konsulen senior di sini. Ya asal jangan konsulen yang teman mertuamu aja lho……Atau sama Dr. Banci aja? Dia sangat care lho sama kamu”

‘Gak usah, dok. Gak perlu karena saya tidak stress. Saya hanya gak punya waktu untuk belajar karena tuntutan pekerjaan di sini yang sangat bertubi-tubi”

“Ya gak pa-pa kok kalau kamu stress.”

‘Maaf, dok. Tapi saya tidak stress.’

“Tapi menurut Dr. Banci kamu stress kok….”

Dan begitulah keputusan yang telah dikeluarkan tetap berlaku. Walau subyektivitas tetap kental terasa. Walau peserta lain tidak pernah mendapat ujian. Walau mismanagement program tidak pernah diakui.


Apakah cerita dan percakapan diatas juga fiktif dan hayalan belaka? Saya berharap demikian.


RSABHK, Slipi

29 September 2010

18.05

You better not get married!!

“Eh apa kabar penganten baru”

“Baik, Dok. Bisa aja nih, dokter. Gak baru lah…..”

(nimbrung) “Ya masih baru lah….baru dua bulan kan…”

“Tiga bulan prof….Malu ah kalo dibilang penganten baru”

“Gimana nih kabarnya rumah tangga. Honeymoon terus ya….”

“Lah boro-boro sempet honeymoon, Dok. Abis nikah aja langsung masuk lagi kok… Udah gitu kegiatan di sini gila-gilaan lagi….rata-rata saya baru sampai rumah jam 12 malam….jam 5 pagi udah berangkat lagi, karena jam 6 sudah ronde sama dokter raksasa itu…”

“Ih kamu gak boleh ngeluh, suamiku…. Lagian salah sendiri kok berani-beraninya nikah…. Nikah dan urusan rumah tangga itu kan jelas-jelas gangguan. Liat aja, orang-orang yang berhasil di sini tidak menikah. Kalaupun menikah pasti gak diribetin urusan rumah tangga. Udah jelas kok, kita harus memilih. Menikah atau jadi dokter spesialis. Gak boleh dua-duanya. Lah kalau kamu masih nekat menikah terus terseok-seok saat berusaha jadi dokter spesialis ya salahmu sendiri…. Ya gak, prof? Ya gak dok?

“………………..”


Percakapan diatas bersifat hayalan belaka? Sebaiknya demikian. Walau sangat mungkin terinspirasi atas kejadian nyata.

RSABHK, Slipi

29 September 2010

17.15

Saturday, September 25, 2010

Belajar Berkata "That's Alright..."

Kamis Malam

Aku menghadiri upacara pra-nikah anak salah seorang kerabat orangtuaku.
Tanpa dampingannya. Dia jaga malam. Again.
That's alright. Toh aku hadir bersama keluargaku.
That's alright. Walau kenalan orangtuaku yang hadir menanyakan keberadaanya, toh mereka adalah orang-orang yang mengerti dan dapat menertawakan 'kekejaman' keadaan ini.

Jumat Malam

Kutelan makan malamku sendirian. Tidak terlalu sulit. Toh aku sudah tidak makan dari siang tadi.
Sengaja. Alhamdulillah berhadiah kemampuan menelan makan malam dengan mudah.
Dia pulang setelah aku berhasil terlelap.
Macet. Begitu alasannya.
That's alright. Yang penting dia pulang. Walau dalam keadaan separoh tidur
That's alright. Toh week-end sudah menjelang...

dan kemudian.....'bom' itu pun meledak....

"Baju jagaku udah bersih?"
'Kenapa nanya baju jaga?'
"Besok aku jaga di emergency lagi"
'[wtf] Loh bulan ini kan kamu udah beberapa kali jaga di week-end!!!'
"Ya gitu lah.....gak tau juga aku....Senin aku juga jaga lagi...."
'................'

Aku gak bisa lagi bilang "that's alright....". Sumpah aku udah coba
Yang bisa adalah pertanyaan bertubi-tubi, dalam hati, kepada diriku sendiri, mungkin berharap dunia bisa mendengar jeritan hati.
Kenapa dia tega ya?
Dia sudah tau bahwa besok jaga, kenapa malam ini dia pulang malam sekali ya?
Eh, apa dia punya pilihan?
Sebenarnya semua ini salah siapa?
Kepada siapa aku bisa marah? Harus marah? Atau boleh marah?

Dan sebagai layaknya kodrat perempuan cengeng. Airmata pun gak bisa kutahan lagi.
Turun satu-satu. Awalnya. Kemudian merekapun berkejaran seperti banjir waduk Katulampa.
Kupergi dari hadapannya. Tak sanggup menangis di sana
Mungkin lebih baik menangis sendiri, pikirku.
Aku menangis sampai tertidur di kamar kerja.
Aku terbangun ketika dia mengajakku pindah tidur ke kamar kami
Kuturuti ajakannya.
Begitu kulihat tempat tidur kami, air mata mulai rembes lagi
Kubaringkan badanku di sebelahnya. Berharap airmata ini tidak menyerah pada gravitasi, karena kini posisi kepalaku horizontal
Ternyata gravitasi lebih licik. Banjir kembali terjadi kini
Aku pindah duduk di ke luar kamar. Kupuaskan air mata itu tumpah. Hingga kantuk kembali datang
Aku kembali masuk kamar. Sambil berkata, "Air mata, berbaik hatilah padaku. Aku ingin tidur di sebelah suamiku"
Ternyata air mata sedang tidak bersahabat hari ini. Atau mereka berempati dengan sungai-sungai musim penghujan? Gak tau lah....
Yang kutahu adalah air mata kembali turun berkejaran.
Mungkin penyebabnya adalah suamiku yang tertidur dan tempat tidur kami.
Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke kamar kerja. Mungkin kantuk akan datang. Dan akupun bisa tidur sampai waktu bertugasku datang.

"I'm sorry, hon. Let me sleep by myself tonight. So I can mend my broken heart"

Biar besok aku bisa kembali belajar berkata, "that's alright...."


MGR 1, Tanjung Duren
25 September 2010
02.33

Tuesday, September 21, 2010

Siklus

09.30

“Aku kebagian di poliklinik hari ini. Cuma mengasisteni dokter konsulen”
‘Lalu…??’
“ Yaah….jam empat sore nanti aku udah selesai. Aku mau langsung kabur. Gak mau lagi ngurusin yang lain-lain” ‘Oh gitu…..asiiiiikk…. nanti kita nonton ya……aku juga pulang cepat. Gak ada pasien hari ini.’
“Nanti kita makan dulu ya…..ditempat kemaren itu…..”
‘Sip! Pantang nolak dinner’
“Ok. Call you later

00.25
“Aku udah dalam perjalanan pulang. Tungguin ya….kunciku gak ketemu soalnya. Aku ngantuk”
‘…………….’
“Aku tadi berhasil menginfus satu anak lagi. Udah genap tugasku 10 pasien diinfus. Tinggal menyelesaikan 30 pasien di-EKG itu”
‘……………’
“Anaknya baru dipindahkan ke ruang rawat jam 10 malam tadi, makanya aku malam sekali baru berhasil menginfus dia. Ini aja resume pasien yang pulang tadi siang gak selesai aku ketik. Aku udah dimarahin perawat, udah disuruh pulang”
‘………….’
“Eh ini dia kunciku. Ternyata ketinggalan di dashboard. Udah kamu gak usah turun. Aku bisa masuk kok”
‘Ok’

That’s it.
No movies.
No dinner.

Beruntung tadi kuputuskan untuk menyelesaikan makan makan malamku sendirian. Karena siklus kembali berulang. Telepon penuh rencanadan kegembiraan di pagi hari.
Berlanjut dengan telepon keluh kesah disiang hari.
Berbagai perubahan rencana kecil-kecil di sore hari.
Pembatalan-pembatalan yang tak terucapkan.
Makan malam yang diselesaikan sendirian.
Berusaha tidur atau ketiduran.
Telepon pemberitahuan ditengah malam buta atau dini hari.
Kesibukan kecil akibat kepulangannya.
Tidur yang gelisah.
Bangun tergesa-gesa.
Bias kemerahan di barat langit sebagai tanda aku harus menguatkan hati untuk melepasnya berangkat lagi. Lengkaplah siklus itu tergenapkan.

Ini semua sudah berlangsung hampir tiga bulan ini. Tepatnya tiga hari setelah rangkaian acara pernikahan kami usai. Semua dimulai ketika kami melangkahkan kami memasuki gerbang neraka ini.
A hell called Pediatric Unit of a-so-called-National Cardiac Center.
A part of my husband journey to be a cardiologist.
A process that called residency. But I still call it HELL.

This is a beginning of my retrospective stories. Daily notes of a whinny, revengeful doctor’s wife.
More stories to come.


MGR 1, Tanjung Duren
21 September 2010
01.23

Tuesday, July 07, 2009

Kampanye Primordial

SMS ini dikirim nyokap gue beberapa minggu yang lalu

Baringin gadang di tangah koto
Daunnyo malambai akanyo manjelo
Diureknyo Bundo manyulam jo marendo
Kalau sanak mancari ciri sarato tando
Urangnyo pandai alim tabao
Induak barehnyo bajilbab pulo
Anak urang Lintau Buo

Pai mamikek ke Umbilin
Singgah di tambang batubaro
Kalau dunsanak mamilih pamimpin
Pilih Capres nan urang Sumando
Ibu negara jatuah ka urang awak pulo

Teruskan pesan ini ke 10 teman urang awak

Sebagai orang yang (sok) ngerti Bahasa Minang gue mencoba menerjemahkannya

Beringin besar di tengah kota
Daunnya melambai, akarnya menjulur
Di urat (akarnya) Bunda menyulam merenda
Bila anda mencari ciri serta tanda
Orangnya pandai, alim pula
Induak barehnyo berjilbab pula (nah yang ini gue gak ngerti. Arti harafiahnya induak barehnyo=induk beras. Tapi kalau melihat kata-kata "......berjilbab pula" mungkin mengarah kepada istri atau home-maker)

Pergi memikat ke Umbilin
Singgah di tambang batu bara
Bila saudara memilih pemimpin
Pilih Capres yang keluarga suami (ini kembali bagian sok tau gue. Urang sumando setau gue adalah sebutan untuk suami dan keluarganya)
Ibu negara jatuhnya ke kaum kita juga

Pesan ini diakhiri dengan embel-embel untuk diteruskan kepada teman yang urang awak a.k.a orang Minang juga.

Entah kenapa, ketika menerima pesan ini, perasaan yang timbul dengan segera adalah muak.
Rasanya seperti penghianatan besar-besaran terhadap Sumpah Pemuda yang sudah berusia 100 tahun lebih. Kenapa juga kampanye masih menggunakan semangat kesukuan yang primordial seperti ini sih? Sedih gue.....







Monday, May 26, 2008

James Blunt: All The Lost Souls Concert

Rabu, 21 Mei 2008

Berangkat bareng Tiek. Janjian ketemu di Plangi. Makan dulu di Rice Bowl. Dengan noraknya gue excited berlebihan. “Butterfly in my stomach” kata Tiek
Akhirnya siap berangkat. Cari taksi ribet, nunggu lama. Akhirnya nyampe juga di Tennis Indoor.
Berhubung kami belum pernah nonton di Tennis Indoor, agak lama juga nyari-nyari pintu masuknya. Mana dirubung calo tiket lagi....mereka pada nawarin tiket setengah harga. Gue sempet mikir juga, ”tau gitu tadi si Dina ama Etha ikutan aja. Lumayan juga kalo bisa dapet setengah harga”


Akhirnya pintu masuknya keliatan juga. Pemeriksaan pertama. Biasa aja. Lewat. Trus jalan menuju pemeriksaan kedua. Di sepanjang jalan ini udah mulai banyak pedagang asongan yan jual baju-baju dan poster-poster James Blunt. Yang paling menarik adalah seorang penjual poster di dekat gerbang pemeriksaan kedua. Dia ngejual poster.....DURAN-DURAN!! Lho kok?!?!.... Salah konser, Mas. Itu yang bulan lalu...hehehe... mungkin sisa ya....

Pemeriksaan ketiga. Body checking. Bagus. Yang perempuan diperiksa ama perempuan juga. Ramah. Bersahabat. Minta ijin dulu. Sangat memperhatikan kenyamanan konsumen

Pemeriksaan keempat. Tiket diperiksa dengan lampu UV. Hehehe....kalo ketipu calo, mampus aja. Malunya itu lho… Mungkin ini salah satu alasan kenapa sebaiknya gak beli tiket ama calo

Akhirnya masuk juga ke gate D.

Ada satu kejadian tolol sih… setelah lepas gerbang kami sempet bingung harus lanjut kemana. Melihat kami bingung ada mas-mas panitia dengan semangatnya teriak kenceng, ”Naik ke atas aja Mbak!” Spontan gue jawab, ”Saya tau kalo naik itu ke atas, Mas...tapi lewat mana naiknya?” Sebenernya gue merencanakan kalimat itu sebagai gumaman pertanyaan retoris yang cukup didenger Tiek aja. Tapi ternyata karena agak ngos-ngosan di bawa jalan ala kamp nazi ama Tiek, suara gue menjadi cukup kenceng. Maka para panitia yang ada di deket-deket situ jadi senyum-senyum kecut.

Setelah naik tangga, ketemu pintu yang memperlihatkan panggung. Gue langsung menuju pintu itu dan menemukan bahwa pintu itu menuju tribun yang berada di sisi kanan panggung. Langsung tancap komentar dong gue, ”Ini yang pinggir ya, Tiek?” belum sempat Tiek jawab kembali muncul mas-mas proaktif, ”Kalau mau di tengah, masuknya pintu yang sana Mbak” sambil nunjuk ke arah kanan kami. Wah yang ini bagus nih kayaknya kemampuan spasialnya...

Maka masuklah kami lewat pintu yang tadi ditunjuk. Wuih...masih sepi... Asiik bisa milih tempat. Gue ama Tiek dapat tempat terbaik menurut kami. Satu undakan dibawah tribun utama. Hanya sedikit high angle, tepat dihadapan kami menjembrenglah si panggung.

Masih jam 7. Berarti masih 1 jam lagi baru konsernya mulai. Seperti biasa, banci observasi mulai beraksi…… Hal pertama yang masuk pengamatan gue adalah ternyata banyak orang-orang setengah baya yang nonton. Orang-orang yang menurut gue bukan target pasarnya James Blunt. At least bukan target pasar konser ini. Menarik. Kasiannya mereka pilih nonton di festival yang mana mereka harus berdiri cukup lama sebelum konser -yang ternyata agak molor- ini dimulai

Banyak orang yang dateng mepet waktu tapi pengen tempat yang terbaik. Usaha-usaha mereka kadang bikin gue pengen tutup muka. Khas sekali bangsa ini.....

Akhirnya muncul tanda-tanda konser akan dimulai. Keluar satu sosok berpakaian gelap. Orang mulai tepuk tangan. Tiek mulai nyikut-nyikut pinggang sambil bilang, ”tuh....tuh....” Ternyata.... bukan. Salah satu personel band pendukungnya yang keluar paling duluan yang disusul personel-personel lain. Blunt muncul belakangan. Rapi. Komentar gue dan Tiek: ”HALAH!!! Kok pake jas?!?!” Yap mereka muncul rapi berjas. Para personel band bahkan berdasi.

Senyum sebentar. Konser pun dimulai. Dibuka dengan lagu....

Give Me Some Love
Langsung. Penonton cuma dikasih sepotong senyum manis dan ”Good evening”
Penonton terpana. Gak siap dengan pembukaan yang irit
Penonton belum terlalu panas, kecuali satu penonton di sebelah gue yang selalu meneriakan /Valium said to me I’ll take you seriously/. Dengan berat hati gue beritahukan bahwa penonton itu bernama Tiek. Hiks. Why....why...why....

.....dan konser pun berlanjut....gue berusaha nulis sesuai urutan lagu yang dimainkan....kalaupun gak berhasil, paling gak sesuai nyanyian hati gue....hehehe....


High
Blunt dengan gitar, penonton yang sepertinya udah tau lagunya dari intro serentak nyanyi bareng dari bait pertama. Bagian dari pembukaan yang cantik. Lagu ini selalu mengingatkan gue akan adegan lahirnya bayi kembar 5 di film Grey’s Anatomy

Same Mistake
Kurva turun. Penonton kayaknya memilih untuk menikmati suara dan gantengnya Blunt sambil nyaman di pelukan pasangan masing-masing.....huwaaaaaa....kenapa gue perginya ama Tiek....

I Really Want You
Diawali dengan sambutan meriah penonton, dengan senyum dan tetap masih main gitar Blunt mulai main lagu ini. Menjelang lagu abis, waktu reffrain terakhir terdengar satu teriakan terdengar, ”I Want you too” yang disambut bunyi ketawa satu gedung. Hehehe....

Hampir seperempat konser berjalan, tapi Blunt masih irit ngomong. Senyum-senyum. Mondar-mandir. Masih berdialog dengan gerakan tangan yang itu-itu aja. Terkesan malu-malu. Canggung. Kata Tiek, ”gini nih kalo orang jago tapi dari awal gak merencanakan akan jadi artis terkenal”

Ada satu moment dimana Blunt turun dari panggung dan mendekati pagar pembatas penonton festival. Panjat pagar. Bersalaman dan membiarkan sebagian badan bagian atasnya dikerubuti penonton. Melepaskan diri. Lalu lari ke ujung satunya. Melakukan hal yang sama dan berakhir di tengah. Yang lucu adalah ketika di berlari, penonton seolah ikut bergerak dan berusaha terus memegang dirinya. Mungkin karena sikapnya yang malu-malu, canggung itu bikin penonton gemes dan pengen godain.

I’ll Take Everything
Setelah seperempat awal konser dia cuma senyum-senyum, mondar-mandir canggung, irit bicara dengan cuma ngomong ”Good evening, Jakarta!!!”, penonton dikagetkan dengan Blunt mulai bercerita sambil pindah dari mike tengah panggung ke piano (mungkin sejenis clavinova gitu, bukan grand piano). Dia ngomong kalo orang-orang pada bilang bahwa You’re beautiful emang lagu hebat yang menjadikan dirinya orang terkenal. Trus dia sambung ”I’ve asked when I die and about lied in my grave, please play Good bye my Lover” dan penonton pun melenguh…”No….” Dengan manisnya Blunt senyum. “But now this is the song that you play in the middle. This is a song you play when you get divorced…… I’ll take everything” Huahaha…bisa nglucu juga
Di akhir lagu ada penonton yang teriak dengan nada histeris, “Take Me……”
Bukan. Bukan Tiek.

Goodbye My Lover
Masih sendirian di depan piano. Panggung gelap. Cuma ada satu lampu toplight dengan warna putih kekuningan menyinarinya. Mistis sekali. Bikin gue pengen nangis sampai kebelet pipis.

No Bravery
”This a song about my time in the Army” Cuma itu kalimat pembukanya. Emang bener-bener irit ngomong. Lagu ini mengikuti I’ll take everything. Dimainin dengan piano. Sendirian. Emang tega tuh temen-temenya. “Biarin aja, dia kan yang bayarannya paling mahal” mungkin gitu kata temen-temennya. Di lagu ini keliatan banget luka batin yang terjadi dari pengalaman ketentaraannya. Dan visualisasi sangat menunjang. Walau gak ada gambar mayat bergelimpangan dan Blunt memang berada di Kosovo pas masa peacekeeping, tapi bangunan bekas kena bom, sisa bis yang habis terbakar sedang dipindahkan, memang bisa membangunkan sisi paling gelap dalam diri kita yang udah kita usahakan untuk dikubur dalam-dalam. Imagine he’s doing it on every concert!

You’re Beautiful
Baru intro. Mungkin baru 3 nada. Penonton langsung histeris. Dengan gantengnya Blunt berdiri di tengah panggung sambil main gitar dan membiarkan penonton nyanyi ampir setengah lagu. Dianya cuma senyum-senyum aja. Pas reffrain, ”You’re beautifull.....” perempuan-perempuan yang mengisi separoh stadion serentak menjawab, ”Thank You....” Lagu jagoan. Gak heran lagu ini menobatkan dia sebagai penyanyi papan atas dunia

Shine on
Lupa detilnya. Yang inget cuma gaya berdirinya yang tegap ala militer. Suara khas yang menyihir. Gitar akustik yang dipakai berganti-ganti. Yang kadang di dorong ke arah samping. Rada mirip "Satria Bergitar", tapi biarlah.

Billy
Bagian dari lagu penyihiran. Atau guenya aja yang gampang kesurupan. Liat muka ganteng ama pantat keceng dikit aja langsung lupa diri.

Wisemen
Blunt Cuma teriak,”Wisemen” dan penonton pun berteriak!

Carry You Home
Gue cuma bisa ngebayangin gimana ya rasanya di gendong dibawa pulang ama dia… Mulai masuk periode trance nih kayaknya……

Out of my Mind
Satu hal yang jadi catatan dari konser ini adalah, dukungan lampu, grafis dan visualisasinya keren banget. Stage act emang gak menonjol. Jadi gak perlu malah ketika trio pembangun suasana itu udah melakukan tugasnya dengan baik. Salah satu grafis bagus itu ada di lagu ini.
Di akhir lagu ini Blunt ngajak penonton humming ”dada...dadalalala....dada...daddalaladdada” dan dengan baiknya seluruh penonton nurut.

Lagu apa ya...gue lupa....visualisasinya cuma gambar langit berawan yang terus bergerak tapi ditimpa lampu warna merah yang pekat banget. Gue menamai sesi itu sebagai senja berdarah.

Annie
Sebelumnya Blunt bilang, ”This is a song about a naughty girl..... ANNIE”

Setelah sesi ini Blunt dan seluruh band sempet ‘say goodbye’ dan masuk ke balik panggung. Semua lampu mati. Satu dua orang terdengar teriak “We want more” tapi yang lain diem aja di tempat. Tenang. Sangat yakin bahwa pertunjukan belum berakhir dan mereka akan keluar lagi. Semuanya tenang. Gak ada teriak-teriak. Gak ada tepuk tangan. Semua menunggu dengan sabar. Dan benerlah akhirnya mereka masuk kembali barengan dengan menyalanya semua lampu-lampu. Ini penonton Jakarta, Man.... dah gak laku diboongin.....lha kita semua tukang bohong kok....

1973
Simone...... Gak ada yang banyak bisa diceritain. Walau terasa bahwa ini lagu puncaknya, tapi gak beda ama banyak lagu sebelumnya penonton nyanyi lagu ini dari awal ampe selesai.

Gak inget di lagu yang mana, Blunt yang lagi main piano tiba-tiba naik di atas kursi piano dan kemudian menginjakkan satu kakinya lagi diatas piano dan mengajak semua penonton nyanyi.

Itu pianonya siapa ya? Kasian juga Javamusikindo. Hehehehe.... what a nice surprise!

So Long, Jimmy
Lagu penutup yang sangat tepat. Samar-samar denger tante-tante di belakang gue nyanyi satu lagu penuh dengan penghayatan setara Blunt. Hampir diakhir lagu, tiba-tiba Blunt lari ke pinggir panggung. Menghilang sepersekian detik dibalik loudspeaker dan....memanjat loudspeaker yang tingginya sekitar 2 meter itu. Sempat denger Tiek komentar separoh nanya, ”Dia naik dari mana?!?!” Diakhiri dengan loncatan spektakuler dari atas loudspeaker ke atas panggung.
Gue baru tersadar akan staminanya yang baik. Tidak satu lagu pun yang lepas kontrol. Keringetan memang, tapi tidak terdengar napas yang berkejar-kejaran. Hebat.

Dan tanpa jeda panjang dari lagu ini dengan senyum manis Blunt mengakhiri konser.

”This is our last tour in south east asia. Thanks for coming to this concert. Thank You for having us. We’ll meet again soon”

Dan klimaksnya adalah, Blunt ngluarin kamera pocket pribadi dari kantong celananya dan bilang “Hands in the air”. Dengan lampu mengarah ke penonton maka bertukar peranlah dia saat itu menjadi seksi dokumentasi. Di layar panggung tampil slide show foto-foto penonton dari berbagai konsernya di dunia. Emang unik nih penyanyi satu.

Penonton kita juga perlu dapet apresiasi. Menurut gue penonton konser di Jakarta adalah penonton yang baik. Sangat apresiatif, ekspresif dan kooperatif. Bahkan saat ada satu lagu yang tidak akrab di telinga penonton. Gak tau lagunya siapa. Judulnya gue lupa, tapi waktu keyboardist-nya ngajak penonton tepuk tangan, serentak tangan-tangan mengacung diudara dan bertepuk tangan. Begitu juga waktu Blunt ngajak nanyiin satu kalimat dari refrain itu. Dengan takzimnya penonton juga ikut bernyanyi.

Dan konser pun berakhir dengan manis. Semua lupa bahwa habis ini harus jalan lagi untuk menuju kendaraan-kendaraan dan para penjemput yang akan membawa pulang. Masih butuh waktu sekitar 1 jam lagi sebelum bisa mengkhayal sambil mendesah-desah







Saturday, March 22, 2008

Tentang Leluhur

Beberapa hari yang lalu, Steny, penyiar di GMHR Hard Rock FM, melemparkan pertanyaan yang sepertinya sangat sederhana tapi setelah beberapa kali dilontarkan dan coba dijawab ternyata menjadi pertanyaan yang menarik dan menggelitik (geli dong ah…).

Steny bertanya, ‘Sejauh apa loe tau atau kenal generasi keluarga diatas loe atau pendahulu loe a.k.a leluhur’. Awalnya gue ketawa denger pertanyaan itu tapi kemudian dia cerita tentang John Howard, PM Australia, yang ternyata kedua kakeknya baik dari garis keturunan ayah maupun ibunya adalah pencuri yang terpidana.

Mau gak mau, gue tergelitik juga dengan pertanyaan itu. Kebetulan pertengahan tahun lalu gue bikinin ‘buku’ untuk Opa gue dari garis nyokap dalam rangka ulang tahunnya yang ke 80, jadi dalam rangka pembuatan buku itu gue memang ‘menggali’ sejarah keluarga nyokap gue. Kebetulan juga, pagi itu gue berangkat bareng bokap yang juga denger radio. Pas iklan yang dilanjutkan lagu, gue langsung buka percakapan ama bokap.

‘Pap, aku tahu kalo bapaknya Opa itu kan namanya Namid gelarnya Datuk Djalarantau. Kalo gak salah dia itu semacam pamong praja di kampungnya gitu kan.”
‘Heeh….’
‘Terus, kalo bapaknya Oma aku cuma tau namanya Abuzar. Kalo gak salah dia itu pegawai perusahaan telekomunikasi jaman belanda, terus ibunya Oma itu guru ngaji tapi aku lupa namanya. Terus kalo bapaknya Atok[1] aku tau dia itu Kadi Besar Kerajaan Siak kan?”
‘Bukan…. Dia itu Kadi Besar Kerajaan Langkat”
‘Oh…. Hehehe…. Namanya siapa?’
‘Hamid’
‘Trus kalo ibunya Atok namanya siapa?’
‘Papa juga gak tau, soalnya Papi udah ditinggal mati ibunya waktu dia umur 11 tahun’

Kemudian sampailah gue ke bagian sejarah keluarga gue yang menurut gue cukup spektakuler.
‘Kalo nenek[2], bapaknya siapa namanya?’
‘Abdul Syukur’
‘Kerjaannya apa?’
‘Itu…Ahli batu-batuan?’
‘Batu-batuan apaan? Batu akik?’
‘Iya… dia itu tukang emas yang juga ahli permata’
‘Haaaahhhh??? Tukang emas seperti goldsmith gitu maksudnya?’
‘Iya!’
‘Cuma punya toko emas apa dia juga bikin’
‘Dia bikin dan juga punya toko emas’

Gue masih tetep gak percaya dan meragukan informasi bokap gue itu. Gue memperkirakan bokap gak pernah ketemu atau kenal dengan kakek neneknya itu dengan statusnya sebagai anak ke-8. ‘Emang papa pernah ketemu?’
‘Kalo sama Gaek[3], Papa masih ketemu tapi Inyik[4] udah meninggal waktu Papa lahir’
‘Trus papa tau dari mana kalo Buyut itu tukang emas? Nenek kan orangnya pendiem gak suka cerita-cerita’
‘Bang Aidir. Dia sempet kenal Gaek sama Inyik. Sempet foto bareng malah. Dia yang cerita’
‘Oh Om Aidir… ya kalo dia sih bisa dipercaya’
‘Jadi kamu gak percaya ama Papa?’
‘Ya abis ceritanya ‘spektakuler’ sih… tapi Papa yakin Om Aidir dapet informasi yang bener? Jangan-jangan dia itu tukang sate…. Kan namanya mirip tukang sate[5] tuh’
‘Ya bener lah! Kalo keturunan tukang sate sih mama kamu tuh. Dia kan yang dari Padang Panjang. Papa sih dari Payakumbuh, gak ada tukang sate di sana’
‘Jadi bener nih kita keturunan tukang emas? Minang amat sih….’

Jadi begitulah. Pagi ini gue menemukan satu keping yang unik lagi dari diri gue. Kayaknya sih gak banyak orang yang punya leluhur tukang emas. Tukang emas lhoo…. bukan sekadar pedagang emas. Informasi ini ternyata cukup bisa menggembirakan gue untuk beberapa hari. Dan seperti biasa ‘Anne si pengkhayal’ mulai membayangkan bagaimana ya…reaksi buyut gue yang kadi besar itu waktu anaknya bilang dia mau kawin ama anak tukang emas?


PK, 25.02.2007



[1] Panggilan cucu-cucu kepada kakek dari pihak bokap
[2] Panggilan untuk nenek dari pihak bokap gue
[3] Panggilan untuk nenek dalam bahasa minang
[4] Panggilan untuk kakek dalam bahasa minang
[5] Sate yang terkenal enak adalah Sate Mak Syukur

Today, You’re My Heroes

Pagi ini, drama senin pagi kembali terulang dalam hidup gue. Berbagai kekacauan udah mulai terasa sejak gue buka mata jam 5 pagi. Dan bener aja, akhirnya gue baru bisa berangkat dari rumah gue di kalimalang jam 7.40 padahal udah harus sampai kantor di slipi jam 9.30. Kebayang kan betapa paniknya gue. Ditambah lagi dengan supir gue telat dateng. Dan inget, ini hari senin bos!! Jadilah gue berangkat dengan kemrungsung.

Seperti biasa, tiap pagi gue selalu denger GMHR di mobil. Dalam hitungan kurang dari 10 menit gue udah ketawa ngakak padahal sebelumnya uring-uringan. Padahal saat itu Steny dan Pandji sedang ngebahas sesi IJASAH alias Ingat JAman suSAH. Dimana mereka menceritakan masa-masa tersulit dalam hidup mereka. Apa lucunya, apa serunya coba denger kisah sedih orang lain? Normally, kita gak akan ketawa-ketawa kalau denger kisah sedih, tapi itulah mereka. Mereka bisa cerita sambil tetep ketawa-ketawa dan dipenuhi komentar-komentar nggilani khas mereka itu. Ya itulah Stendji. Dengan cara sederhana mereka bisa ngajarin gue bahwa emang bener life is sucks, tapi ngomel, ngedumel, marah-marah gak akan buat hidup jadi otomatis membaik. Bahwa kita bisa mengontrol emosi kita untuk membuat kehidupan kita lebih baik. Semacam kepasarahan tanpa menyerah……

Sebenernya ini bukan kejadian pertama. Cukup sering gue mengalami perubahan mood hanya dalam hitungan menit setelah dengerin mereka gila-gilaan di radio. Menurut gue, ini sebenernya bukan hal yang sederhana. Mungkin kita melihat hidup mereka mudah dan menyenangkan. Asik karena mereka bisa mengerjakan hal yang mereka sukai. Kalau dilihat lebih jauh lagi sebenernya sih gak gampang juga. Banyak hal yang harus mereka kelola. Mulai dari mengalahkan diri sendiri untuk bangun pagi, meninggalkan tempat tidur yang nyaman. Membangun mood, baik mood diri sendiri maupun mood orang lain. Bertahan untuk tetap fokus selama 4 jam, padahal mungkin banyak kepentingan pribadi yang juga mendesak-desak harus diselesaikan.

Buat gue, apa yang mereka lakukan itu sangat berharga. Bahwa mereka punya sarana untuk itu, dibayar untuk melakukan itu, memang gak bisa dipungkiri. Tapi coba liat lagi. Banyak juga orang yang punya sarana. Banyak juga orang yang dibayar untuk mempermudah hidup orang lain. Tapi berapa banyak yang melakukannya dengan tulus. Yang melakukannya karena demi kecintaan akan kehidupan itu sendiri. Dan yang lebih asiknya, mereka melakukan ini semua tanpa pikir panjang. Tanpa niatan untuk menjadi orang yang lebih berjasa maupun lebih berharga dibandingkan yang lain. Semua begitu jujur apa adanya. Bener juga orang yang ngomong di 'film itu', "Everybody can be a hero. It doesn’t need someone special to be a hero" Cause for today, Steny and Pandji are my heroes!!!



22.07.2007
16.10
late afternoon at the ‘Monday office’