Tuesday, September 21, 2010

Siklus

09.30

“Aku kebagian di poliklinik hari ini. Cuma mengasisteni dokter konsulen”
‘Lalu…??’
“ Yaah….jam empat sore nanti aku udah selesai. Aku mau langsung kabur. Gak mau lagi ngurusin yang lain-lain” ‘Oh gitu…..asiiiiikk…. nanti kita nonton ya……aku juga pulang cepat. Gak ada pasien hari ini.’
“Nanti kita makan dulu ya…..ditempat kemaren itu…..”
‘Sip! Pantang nolak dinner’
“Ok. Call you later

00.25
“Aku udah dalam perjalanan pulang. Tungguin ya….kunciku gak ketemu soalnya. Aku ngantuk”
‘…………….’
“Aku tadi berhasil menginfus satu anak lagi. Udah genap tugasku 10 pasien diinfus. Tinggal menyelesaikan 30 pasien di-EKG itu”
‘……………’
“Anaknya baru dipindahkan ke ruang rawat jam 10 malam tadi, makanya aku malam sekali baru berhasil menginfus dia. Ini aja resume pasien yang pulang tadi siang gak selesai aku ketik. Aku udah dimarahin perawat, udah disuruh pulang”
‘………….’
“Eh ini dia kunciku. Ternyata ketinggalan di dashboard. Udah kamu gak usah turun. Aku bisa masuk kok”
‘Ok’

That’s it.
No movies.
No dinner.

Beruntung tadi kuputuskan untuk menyelesaikan makan makan malamku sendirian. Karena siklus kembali berulang. Telepon penuh rencanadan kegembiraan di pagi hari.
Berlanjut dengan telepon keluh kesah disiang hari.
Berbagai perubahan rencana kecil-kecil di sore hari.
Pembatalan-pembatalan yang tak terucapkan.
Makan malam yang diselesaikan sendirian.
Berusaha tidur atau ketiduran.
Telepon pemberitahuan ditengah malam buta atau dini hari.
Kesibukan kecil akibat kepulangannya.
Tidur yang gelisah.
Bangun tergesa-gesa.
Bias kemerahan di barat langit sebagai tanda aku harus menguatkan hati untuk melepasnya berangkat lagi. Lengkaplah siklus itu tergenapkan.

Ini semua sudah berlangsung hampir tiga bulan ini. Tepatnya tiga hari setelah rangkaian acara pernikahan kami usai. Semua dimulai ketika kami melangkahkan kami memasuki gerbang neraka ini.
A hell called Pediatric Unit of a-so-called-National Cardiac Center.
A part of my husband journey to be a cardiologist.
A process that called residency. But I still call it HELL.

This is a beginning of my retrospective stories. Daily notes of a whinny, revengeful doctor’s wife.
More stories to come.


MGR 1, Tanjung Duren
21 September 2010
01.23

No comments: