Saturday, September 25, 2010

Belajar Berkata "That's Alright..."

Kamis Malam

Aku menghadiri upacara pra-nikah anak salah seorang kerabat orangtuaku.
Tanpa dampingannya. Dia jaga malam. Again.
That's alright. Toh aku hadir bersama keluargaku.
That's alright. Walau kenalan orangtuaku yang hadir menanyakan keberadaanya, toh mereka adalah orang-orang yang mengerti dan dapat menertawakan 'kekejaman' keadaan ini.

Jumat Malam

Kutelan makan malamku sendirian. Tidak terlalu sulit. Toh aku sudah tidak makan dari siang tadi.
Sengaja. Alhamdulillah berhadiah kemampuan menelan makan malam dengan mudah.
Dia pulang setelah aku berhasil terlelap.
Macet. Begitu alasannya.
That's alright. Yang penting dia pulang. Walau dalam keadaan separoh tidur
That's alright. Toh week-end sudah menjelang...

dan kemudian.....'bom' itu pun meledak....

"Baju jagaku udah bersih?"
'Kenapa nanya baju jaga?'
"Besok aku jaga di emergency lagi"
'[wtf] Loh bulan ini kan kamu udah beberapa kali jaga di week-end!!!'
"Ya gitu lah.....gak tau juga aku....Senin aku juga jaga lagi...."
'................'

Aku gak bisa lagi bilang "that's alright....". Sumpah aku udah coba
Yang bisa adalah pertanyaan bertubi-tubi, dalam hati, kepada diriku sendiri, mungkin berharap dunia bisa mendengar jeritan hati.
Kenapa dia tega ya?
Dia sudah tau bahwa besok jaga, kenapa malam ini dia pulang malam sekali ya?
Eh, apa dia punya pilihan?
Sebenarnya semua ini salah siapa?
Kepada siapa aku bisa marah? Harus marah? Atau boleh marah?

Dan sebagai layaknya kodrat perempuan cengeng. Airmata pun gak bisa kutahan lagi.
Turun satu-satu. Awalnya. Kemudian merekapun berkejaran seperti banjir waduk Katulampa.
Kupergi dari hadapannya. Tak sanggup menangis di sana
Mungkin lebih baik menangis sendiri, pikirku.
Aku menangis sampai tertidur di kamar kerja.
Aku terbangun ketika dia mengajakku pindah tidur ke kamar kami
Kuturuti ajakannya.
Begitu kulihat tempat tidur kami, air mata mulai rembes lagi
Kubaringkan badanku di sebelahnya. Berharap airmata ini tidak menyerah pada gravitasi, karena kini posisi kepalaku horizontal
Ternyata gravitasi lebih licik. Banjir kembali terjadi kini
Aku pindah duduk di ke luar kamar. Kupuaskan air mata itu tumpah. Hingga kantuk kembali datang
Aku kembali masuk kamar. Sambil berkata, "Air mata, berbaik hatilah padaku. Aku ingin tidur di sebelah suamiku"
Ternyata air mata sedang tidak bersahabat hari ini. Atau mereka berempati dengan sungai-sungai musim penghujan? Gak tau lah....
Yang kutahu adalah air mata kembali turun berkejaran.
Mungkin penyebabnya adalah suamiku yang tertidur dan tempat tidur kami.
Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke kamar kerja. Mungkin kantuk akan datang. Dan akupun bisa tidur sampai waktu bertugasku datang.

"I'm sorry, hon. Let me sleep by myself tonight. So I can mend my broken heart"

Biar besok aku bisa kembali belajar berkata, "that's alright...."


MGR 1, Tanjung Duren
25 September 2010
02.33

No comments: