Saturday, March 22, 2008

Tentang Leluhur

Beberapa hari yang lalu, Steny, penyiar di GMHR Hard Rock FM, melemparkan pertanyaan yang sepertinya sangat sederhana tapi setelah beberapa kali dilontarkan dan coba dijawab ternyata menjadi pertanyaan yang menarik dan menggelitik (geli dong ah…).

Steny bertanya, ‘Sejauh apa loe tau atau kenal generasi keluarga diatas loe atau pendahulu loe a.k.a leluhur’. Awalnya gue ketawa denger pertanyaan itu tapi kemudian dia cerita tentang John Howard, PM Australia, yang ternyata kedua kakeknya baik dari garis keturunan ayah maupun ibunya adalah pencuri yang terpidana.

Mau gak mau, gue tergelitik juga dengan pertanyaan itu. Kebetulan pertengahan tahun lalu gue bikinin ‘buku’ untuk Opa gue dari garis nyokap dalam rangka ulang tahunnya yang ke 80, jadi dalam rangka pembuatan buku itu gue memang ‘menggali’ sejarah keluarga nyokap gue. Kebetulan juga, pagi itu gue berangkat bareng bokap yang juga denger radio. Pas iklan yang dilanjutkan lagu, gue langsung buka percakapan ama bokap.

‘Pap, aku tahu kalo bapaknya Opa itu kan namanya Namid gelarnya Datuk Djalarantau. Kalo gak salah dia itu semacam pamong praja di kampungnya gitu kan.”
‘Heeh….’
‘Terus, kalo bapaknya Oma aku cuma tau namanya Abuzar. Kalo gak salah dia itu pegawai perusahaan telekomunikasi jaman belanda, terus ibunya Oma itu guru ngaji tapi aku lupa namanya. Terus kalo bapaknya Atok[1] aku tau dia itu Kadi Besar Kerajaan Siak kan?”
‘Bukan…. Dia itu Kadi Besar Kerajaan Langkat”
‘Oh…. Hehehe…. Namanya siapa?’
‘Hamid’
‘Trus kalo ibunya Atok namanya siapa?’
‘Papa juga gak tau, soalnya Papi udah ditinggal mati ibunya waktu dia umur 11 tahun’

Kemudian sampailah gue ke bagian sejarah keluarga gue yang menurut gue cukup spektakuler.
‘Kalo nenek[2], bapaknya siapa namanya?’
‘Abdul Syukur’
‘Kerjaannya apa?’
‘Itu…Ahli batu-batuan?’
‘Batu-batuan apaan? Batu akik?’
‘Iya… dia itu tukang emas yang juga ahli permata’
‘Haaaahhhh??? Tukang emas seperti goldsmith gitu maksudnya?’
‘Iya!’
‘Cuma punya toko emas apa dia juga bikin’
‘Dia bikin dan juga punya toko emas’

Gue masih tetep gak percaya dan meragukan informasi bokap gue itu. Gue memperkirakan bokap gak pernah ketemu atau kenal dengan kakek neneknya itu dengan statusnya sebagai anak ke-8. ‘Emang papa pernah ketemu?’
‘Kalo sama Gaek[3], Papa masih ketemu tapi Inyik[4] udah meninggal waktu Papa lahir’
‘Trus papa tau dari mana kalo Buyut itu tukang emas? Nenek kan orangnya pendiem gak suka cerita-cerita’
‘Bang Aidir. Dia sempet kenal Gaek sama Inyik. Sempet foto bareng malah. Dia yang cerita’
‘Oh Om Aidir… ya kalo dia sih bisa dipercaya’
‘Jadi kamu gak percaya ama Papa?’
‘Ya abis ceritanya ‘spektakuler’ sih… tapi Papa yakin Om Aidir dapet informasi yang bener? Jangan-jangan dia itu tukang sate…. Kan namanya mirip tukang sate[5] tuh’
‘Ya bener lah! Kalo keturunan tukang sate sih mama kamu tuh. Dia kan yang dari Padang Panjang. Papa sih dari Payakumbuh, gak ada tukang sate di sana’
‘Jadi bener nih kita keturunan tukang emas? Minang amat sih….’

Jadi begitulah. Pagi ini gue menemukan satu keping yang unik lagi dari diri gue. Kayaknya sih gak banyak orang yang punya leluhur tukang emas. Tukang emas lhoo…. bukan sekadar pedagang emas. Informasi ini ternyata cukup bisa menggembirakan gue untuk beberapa hari. Dan seperti biasa ‘Anne si pengkhayal’ mulai membayangkan bagaimana ya…reaksi buyut gue yang kadi besar itu waktu anaknya bilang dia mau kawin ama anak tukang emas?


PK, 25.02.2007



[1] Panggilan cucu-cucu kepada kakek dari pihak bokap
[2] Panggilan untuk nenek dari pihak bokap gue
[3] Panggilan untuk nenek dalam bahasa minang
[4] Panggilan untuk kakek dalam bahasa minang
[5] Sate yang terkenal enak adalah Sate Mak Syukur

Today, You’re My Heroes

Pagi ini, drama senin pagi kembali terulang dalam hidup gue. Berbagai kekacauan udah mulai terasa sejak gue buka mata jam 5 pagi. Dan bener aja, akhirnya gue baru bisa berangkat dari rumah gue di kalimalang jam 7.40 padahal udah harus sampai kantor di slipi jam 9.30. Kebayang kan betapa paniknya gue. Ditambah lagi dengan supir gue telat dateng. Dan inget, ini hari senin bos!! Jadilah gue berangkat dengan kemrungsung.

Seperti biasa, tiap pagi gue selalu denger GMHR di mobil. Dalam hitungan kurang dari 10 menit gue udah ketawa ngakak padahal sebelumnya uring-uringan. Padahal saat itu Steny dan Pandji sedang ngebahas sesi IJASAH alias Ingat JAman suSAH. Dimana mereka menceritakan masa-masa tersulit dalam hidup mereka. Apa lucunya, apa serunya coba denger kisah sedih orang lain? Normally, kita gak akan ketawa-ketawa kalau denger kisah sedih, tapi itulah mereka. Mereka bisa cerita sambil tetep ketawa-ketawa dan dipenuhi komentar-komentar nggilani khas mereka itu. Ya itulah Stendji. Dengan cara sederhana mereka bisa ngajarin gue bahwa emang bener life is sucks, tapi ngomel, ngedumel, marah-marah gak akan buat hidup jadi otomatis membaik. Bahwa kita bisa mengontrol emosi kita untuk membuat kehidupan kita lebih baik. Semacam kepasarahan tanpa menyerah……

Sebenernya ini bukan kejadian pertama. Cukup sering gue mengalami perubahan mood hanya dalam hitungan menit setelah dengerin mereka gila-gilaan di radio. Menurut gue, ini sebenernya bukan hal yang sederhana. Mungkin kita melihat hidup mereka mudah dan menyenangkan. Asik karena mereka bisa mengerjakan hal yang mereka sukai. Kalau dilihat lebih jauh lagi sebenernya sih gak gampang juga. Banyak hal yang harus mereka kelola. Mulai dari mengalahkan diri sendiri untuk bangun pagi, meninggalkan tempat tidur yang nyaman. Membangun mood, baik mood diri sendiri maupun mood orang lain. Bertahan untuk tetap fokus selama 4 jam, padahal mungkin banyak kepentingan pribadi yang juga mendesak-desak harus diselesaikan.

Buat gue, apa yang mereka lakukan itu sangat berharga. Bahwa mereka punya sarana untuk itu, dibayar untuk melakukan itu, memang gak bisa dipungkiri. Tapi coba liat lagi. Banyak juga orang yang punya sarana. Banyak juga orang yang dibayar untuk mempermudah hidup orang lain. Tapi berapa banyak yang melakukannya dengan tulus. Yang melakukannya karena demi kecintaan akan kehidupan itu sendiri. Dan yang lebih asiknya, mereka melakukan ini semua tanpa pikir panjang. Tanpa niatan untuk menjadi orang yang lebih berjasa maupun lebih berharga dibandingkan yang lain. Semua begitu jujur apa adanya. Bener juga orang yang ngomong di 'film itu', "Everybody can be a hero. It doesn’t need someone special to be a hero" Cause for today, Steny and Pandji are my heroes!!!



22.07.2007
16.10
late afternoon at the ‘Monday office’