Senin, sore menjelang hari semakin tua
“Kamu ujian lisan dengan saya, Dr. SukaMakan, dan Prof. RatuCariPerhatian ya….”
‘Aku nanti malam jaga, Dek. Di emergency. Gak mungkin aku sempat belajar. Lagian aku gak pernah dapat informasi bahwa di bagian ini ujiannya akhirnya berbentuk ujian lisan. Apa jangan-jangan dia Dr. Banci itu cuma mau gertak aku ya?’
‘Kamu jangan berharap terlalu banyak, Mas. Aku kan sudah ingatkan kamu. Tidak ada program yang pasti dan terencana di FK - Universitas Menara Gading ini. Bersiaplah untuk kemungkinan terburuk dan manipulasi terbusuk di muka bumi ini’
‘Kok kamu bilang gitu?’
‘Aku selalu diajari oleh kenyataan bahwa manusia pada dasarnya buruk dan berpihak pada kejahatan. Mbah Freud juga bilang gitu kok’
‘Tapi aku gak akan sanggup belajar. Aku baru selesai jaga jam 7 pagi hari Selasa. Setelah visit pasien, aku harus magang di klinik dengan Prof. RatuCariPerhatian itu sampai sore. Darimana lagi tenagaku untuk belajar?’
‘Ya sudah. Coba sebisamulah…Toh aku sudah minta kamu untuk bersiap kan….’
Selasa, saat hari menjelang berakhir
Suamiku terduduk dengan mata terpejam sementara sebuah buku terbuka dihadapannya. Selang 5 menit dia tersentak terbangun. ‘Aku sudah gak sanggup belajar lagi,Dek. Percuma juga aku paksakan. Gak kan masuk juga ke otakku.’
‘Ya sudah….istirahatlah. Aku selesaikan tulisanku ini sebentar ya….. Setelah itu aku temenin kamu tidur’
‘Que serra-serra aja ya dek….’
‘Whatever will be… Will be. Ingat! Everything happen for a reason.’
Rabu, hari belum habis setengahnya
(pesan pendek via HP) [aku jadi ujian. Beneran keroyokan ujiannya]
“Sebelumnya, perlu saya informasikan bahwa kamu dan 1 orang rekanmu yang akan ujian hari ini adalah 2 orang yang mendapat nilai terendah dari ujian-ujian yang selama ini diselenggarakan. Maka dengan berat hati, kami terpaksa menguji kalian berdua secara lisan”
Apakah sebelum ini pernah dinyatakan bahwa ujian-ujian mendadak selama ini adalah bagian dari penilaian untuk menjadi dokter spesialis? Tidak.
Apakah pernah diumumkan berapa nilai dari tiap para peserta didik? Tidak.
Apakah ada umpan balik terhadap peserta didik atas ujian-ujian yang selama ini diberikan? Tidak.
Adakah jadwal yang pasti mengenai program pendidikan calon dokter spesialis ini? Tidak.
“Silakan masuk. Kami akan mengumumkan hasil ujianmu”
“Dengan sangat berat hati terpaksa kami menyatakan bahwa kamu tidak lulus dari bagian ini dan kamu harus mengulang dengan waktu penuh di bagian ini tiga bulan dari sekarang”
‘Baik, Prof’
‘Yaaahhh….gimana ya….kamu memang tidak berhasil menjawab hampir sebagaian besar dari pertanyaan kami tadi. Kami juga sebenarnya gak enak sih….”
‘Iya, Prof.’
“Yaaahh…gak pa-pa lah kamu mengulang lagi. Itung-itung memperdalam. Selama ini kan kamu lebih banyak mendalami bidang non medis. Lagipula sebelum ini kamu kan mendalami pendidikan manajemen. Apalah artinya pendidikan itu dibandingkan ilmu maha luhur yang kami ajarkan disini. Pasti kamu kesulitan kan mempelajari ilmu maha luhur kami.”
‘Oh….begitu ya, Dr. SukaMakan’
“Iya begitu….lagian kenapa sih kamu gak bias jawab pertanyaan kami?’
‘Saya memang kurang belajar,Prof’
“kenapa bisa kurang belajar? Emang kamu harus nyuci ya di rumah? Atau di suruh masak ya sama istrimu? Hehehehe…...eh ini bercanda lho… nanti kamu sampein lagi ke istrimu”
‘Ya gak lah, Prof. Istri saya gak serendah itu kok budipekertinya’
“Atau kamu stress ya? Gak bisa ya kamu menyesuaikan diri di sini? Saya dengar kamu juga gak bisa berbaur dengan teman-temanmu. Terus saya dengar kamu sampai tidur di lapangan parkir jam 3 pagi ya? Ada apa? Kamu takut pulang ke istrimu di rumah?”
‘Tidak, dok. Itu hanya cerita bikinan yang sangat dipercaya oleh Dr. Banci saja, Dok.’
“Ya memang sangat mungkin sih kamu gak bisa menyesuaikan diri di sini. Kamu bisa lho konsultasi dengan konsulen-konsulen senior di sini. Ya asal jangan konsulen yang teman mertuamu aja lho……Atau sama Dr. Banci aja? Dia sangat care lho sama kamu”
‘Gak usah, dok. Gak perlu karena saya tidak stress. Saya hanya gak punya waktu untuk belajar karena tuntutan pekerjaan di sini yang sangat bertubi-tubi”
“Ya gak pa-pa kok kalau kamu stress.”
‘Maaf, dok. Tapi saya tidak stress.’
“Tapi menurut Dr. Banci kamu stress kok….”
Dan begitulah keputusan yang telah dikeluarkan tetap berlaku. Walau subyektivitas tetap kental terasa. Walau peserta lain tidak pernah mendapat ujian. Walau mismanagement program tidak pernah diakui.
Apakah cerita dan percakapan diatas juga fiktif dan hayalan belaka? Saya berharap demikian.
RSABHK, Slipi
29 September 2010
18.05