Thursday, September 30, 2010

Mau Percaya yang Mana? Ceritaku atau Ceritamu?

Senin, sore menjelang hari semakin tua

“Kamu ujian lisan dengan saya, Dr. SukaMakan, dan Prof. RatuCariPerhatian ya….”

‘Aku nanti malam jaga, Dek. Di emergency. Gak mungkin aku sempat belajar. Lagian aku gak pernah dapat informasi bahwa di bagian ini ujiannya akhirnya berbentuk ujian lisan. Apa jangan-jangan dia Dr. Banci itu cuma mau gertak aku ya?’

‘Kamu jangan berharap terlalu banyak, Mas. Aku kan sudah ingatkan kamu. Tidak ada program yang pasti dan terencana di FK - Universitas Menara Gading ini. Bersiaplah untuk kemungkinan terburuk dan manipulasi terbusuk di muka bumi ini’

‘Kok kamu bilang gitu?’

‘Aku selalu diajari oleh kenyataan bahwa manusia pada dasarnya buruk dan berpihak pada kejahatan. Mbah Freud juga bilang gitu kok’

‘Tapi aku gak akan sanggup belajar. Aku baru selesai jaga jam 7 pagi hari Selasa. Setelah visit pasien, aku harus magang di klinik dengan Prof. RatuCariPerhatian itu sampai sore. Darimana lagi tenagaku untuk belajar?’

‘Ya sudah. Coba sebisamulah…Toh aku sudah minta kamu untuk bersiap kan….’

Selasa, saat hari menjelang berakhir

Suamiku terduduk dengan mata terpejam sementara sebuah buku terbuka dihadapannya. Selang 5 menit dia tersentak terbangun. ‘Aku sudah gak sanggup belajar lagi,Dek. Percuma juga aku paksakan. Gak kan masuk juga ke otakku.’

‘Ya sudah….istirahatlah. Aku selesaikan tulisanku ini sebentar ya….. Setelah itu aku temenin kamu tidur’

‘Que serra-serra aja ya dek….’

‘Whatever will be… Will be. Ingat! Everything happen for a reason.’

Rabu, hari belum habis setengahnya

(pesan pendek via HP) [aku jadi ujian. Beneran keroyokan ujiannya]

“Sebelumnya, perlu saya informasikan bahwa kamu dan 1 orang rekanmu yang akan ujian hari ini adalah 2 orang yang mendapat nilai terendah dari ujian-ujian yang selama ini diselenggarakan. Maka dengan berat hati, kami terpaksa menguji kalian berdua secara lisan”

Apakah sebelum ini pernah dinyatakan bahwa ujian-ujian mendadak selama ini adalah bagian dari penilaian untuk menjadi dokter spesialis? Tidak.


Apakah pernah diumumkan berapa nilai dari tiap para peserta didik? Tidak.

Apakah ada umpan balik terhadap peserta didik atas ujian-ujian yang selama ini diberikan? Tidak.

Adakah jadwal yang pasti mengenai program pendidikan calon dokter spesialis ini? Tidak.


“Silakan masuk. Kami akan mengumumkan hasil ujianmu”

“Dengan sangat berat hati terpaksa kami menyatakan bahwa kamu tidak lulus dari bagian ini dan kamu harus mengulang dengan waktu penuh di bagian ini tiga bulan dari sekarang”

‘Baik, Prof’

‘Yaaahhh….gimana ya….kamu memang tidak berhasil menjawab hampir sebagaian besar dari pertanyaan kami tadi. Kami juga sebenarnya gak enak sih….”

‘Iya, Prof.’

“Yaaahh…gak pa-pa lah kamu mengulang lagi. Itung-itung memperdalam. Selama ini kan kamu lebih banyak mendalami bidang non medis. Lagipula sebelum ini kamu kan mendalami pendidikan manajemen. Apalah artinya pendidikan itu dibandingkan ilmu maha luhur yang kami ajarkan disini. Pasti kamu kesulitan kan mempelajari ilmu maha luhur kami.”

‘Oh….begitu ya, Dr. SukaMakan’

“Iya begitu….lagian kenapa sih kamu gak bias jawab pertanyaan kami?’

‘Saya memang kurang belajar,Prof’

“kenapa bisa kurang belajar? Emang kamu harus nyuci ya di rumah? Atau di suruh masak ya sama istrimu? Hehehehe…...eh ini bercanda lho… nanti kamu sampein lagi ke istrimu”

‘Ya gak lah, Prof. Istri saya gak serendah itu kok budipekertinya’

“Atau kamu stress ya? Gak bisa ya kamu menyesuaikan diri di sini? Saya dengar kamu juga gak bisa berbaur dengan teman-temanmu. Terus saya dengar kamu sampai tidur di lapangan parkir jam 3 pagi ya? Ada apa? Kamu takut pulang ke istrimu di rumah?”

‘Tidak, dok. Itu hanya cerita bikinan yang sangat dipercaya oleh Dr. Banci saja, Dok.’

“Ya memang sangat mungkin sih kamu gak bisa menyesuaikan diri di sini. Kamu bisa lho konsultasi dengan konsulen-konsulen senior di sini. Ya asal jangan konsulen yang teman mertuamu aja lho……Atau sama Dr. Banci aja? Dia sangat care lho sama kamu”

‘Gak usah, dok. Gak perlu karena saya tidak stress. Saya hanya gak punya waktu untuk belajar karena tuntutan pekerjaan di sini yang sangat bertubi-tubi”

“Ya gak pa-pa kok kalau kamu stress.”

‘Maaf, dok. Tapi saya tidak stress.’

“Tapi menurut Dr. Banci kamu stress kok….”

Dan begitulah keputusan yang telah dikeluarkan tetap berlaku. Walau subyektivitas tetap kental terasa. Walau peserta lain tidak pernah mendapat ujian. Walau mismanagement program tidak pernah diakui.


Apakah cerita dan percakapan diatas juga fiktif dan hayalan belaka? Saya berharap demikian.


RSABHK, Slipi

29 September 2010

18.05

You better not get married!!

“Eh apa kabar penganten baru”

“Baik, Dok. Bisa aja nih, dokter. Gak baru lah…..”

(nimbrung) “Ya masih baru lah….baru dua bulan kan…”

“Tiga bulan prof….Malu ah kalo dibilang penganten baru”

“Gimana nih kabarnya rumah tangga. Honeymoon terus ya….”

“Lah boro-boro sempet honeymoon, Dok. Abis nikah aja langsung masuk lagi kok… Udah gitu kegiatan di sini gila-gilaan lagi….rata-rata saya baru sampai rumah jam 12 malam….jam 5 pagi udah berangkat lagi, karena jam 6 sudah ronde sama dokter raksasa itu…”

“Ih kamu gak boleh ngeluh, suamiku…. Lagian salah sendiri kok berani-beraninya nikah…. Nikah dan urusan rumah tangga itu kan jelas-jelas gangguan. Liat aja, orang-orang yang berhasil di sini tidak menikah. Kalaupun menikah pasti gak diribetin urusan rumah tangga. Udah jelas kok, kita harus memilih. Menikah atau jadi dokter spesialis. Gak boleh dua-duanya. Lah kalau kamu masih nekat menikah terus terseok-seok saat berusaha jadi dokter spesialis ya salahmu sendiri…. Ya gak, prof? Ya gak dok?

“………………..”


Percakapan diatas bersifat hayalan belaka? Sebaiknya demikian. Walau sangat mungkin terinspirasi atas kejadian nyata.

RSABHK, Slipi

29 September 2010

17.15

Saturday, September 25, 2010

Belajar Berkata "That's Alright..."

Kamis Malam

Aku menghadiri upacara pra-nikah anak salah seorang kerabat orangtuaku.
Tanpa dampingannya. Dia jaga malam. Again.
That's alright. Toh aku hadir bersama keluargaku.
That's alright. Walau kenalan orangtuaku yang hadir menanyakan keberadaanya, toh mereka adalah orang-orang yang mengerti dan dapat menertawakan 'kekejaman' keadaan ini.

Jumat Malam

Kutelan makan malamku sendirian. Tidak terlalu sulit. Toh aku sudah tidak makan dari siang tadi.
Sengaja. Alhamdulillah berhadiah kemampuan menelan makan malam dengan mudah.
Dia pulang setelah aku berhasil terlelap.
Macet. Begitu alasannya.
That's alright. Yang penting dia pulang. Walau dalam keadaan separoh tidur
That's alright. Toh week-end sudah menjelang...

dan kemudian.....'bom' itu pun meledak....

"Baju jagaku udah bersih?"
'Kenapa nanya baju jaga?'
"Besok aku jaga di emergency lagi"
'[wtf] Loh bulan ini kan kamu udah beberapa kali jaga di week-end!!!'
"Ya gitu lah.....gak tau juga aku....Senin aku juga jaga lagi...."
'................'

Aku gak bisa lagi bilang "that's alright....". Sumpah aku udah coba
Yang bisa adalah pertanyaan bertubi-tubi, dalam hati, kepada diriku sendiri, mungkin berharap dunia bisa mendengar jeritan hati.
Kenapa dia tega ya?
Dia sudah tau bahwa besok jaga, kenapa malam ini dia pulang malam sekali ya?
Eh, apa dia punya pilihan?
Sebenarnya semua ini salah siapa?
Kepada siapa aku bisa marah? Harus marah? Atau boleh marah?

Dan sebagai layaknya kodrat perempuan cengeng. Airmata pun gak bisa kutahan lagi.
Turun satu-satu. Awalnya. Kemudian merekapun berkejaran seperti banjir waduk Katulampa.
Kupergi dari hadapannya. Tak sanggup menangis di sana
Mungkin lebih baik menangis sendiri, pikirku.
Aku menangis sampai tertidur di kamar kerja.
Aku terbangun ketika dia mengajakku pindah tidur ke kamar kami
Kuturuti ajakannya.
Begitu kulihat tempat tidur kami, air mata mulai rembes lagi
Kubaringkan badanku di sebelahnya. Berharap airmata ini tidak menyerah pada gravitasi, karena kini posisi kepalaku horizontal
Ternyata gravitasi lebih licik. Banjir kembali terjadi kini
Aku pindah duduk di ke luar kamar. Kupuaskan air mata itu tumpah. Hingga kantuk kembali datang
Aku kembali masuk kamar. Sambil berkata, "Air mata, berbaik hatilah padaku. Aku ingin tidur di sebelah suamiku"
Ternyata air mata sedang tidak bersahabat hari ini. Atau mereka berempati dengan sungai-sungai musim penghujan? Gak tau lah....
Yang kutahu adalah air mata kembali turun berkejaran.
Mungkin penyebabnya adalah suamiku yang tertidur dan tempat tidur kami.
Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke kamar kerja. Mungkin kantuk akan datang. Dan akupun bisa tidur sampai waktu bertugasku datang.

"I'm sorry, hon. Let me sleep by myself tonight. So I can mend my broken heart"

Biar besok aku bisa kembali belajar berkata, "that's alright...."


MGR 1, Tanjung Duren
25 September 2010
02.33

Tuesday, September 21, 2010

Siklus

09.30

“Aku kebagian di poliklinik hari ini. Cuma mengasisteni dokter konsulen”
‘Lalu…??’
“ Yaah….jam empat sore nanti aku udah selesai. Aku mau langsung kabur. Gak mau lagi ngurusin yang lain-lain” ‘Oh gitu…..asiiiiikk…. nanti kita nonton ya……aku juga pulang cepat. Gak ada pasien hari ini.’
“Nanti kita makan dulu ya…..ditempat kemaren itu…..”
‘Sip! Pantang nolak dinner’
“Ok. Call you later

00.25
“Aku udah dalam perjalanan pulang. Tungguin ya….kunciku gak ketemu soalnya. Aku ngantuk”
‘…………….’
“Aku tadi berhasil menginfus satu anak lagi. Udah genap tugasku 10 pasien diinfus. Tinggal menyelesaikan 30 pasien di-EKG itu”
‘……………’
“Anaknya baru dipindahkan ke ruang rawat jam 10 malam tadi, makanya aku malam sekali baru berhasil menginfus dia. Ini aja resume pasien yang pulang tadi siang gak selesai aku ketik. Aku udah dimarahin perawat, udah disuruh pulang”
‘………….’
“Eh ini dia kunciku. Ternyata ketinggalan di dashboard. Udah kamu gak usah turun. Aku bisa masuk kok”
‘Ok’

That’s it.
No movies.
No dinner.

Beruntung tadi kuputuskan untuk menyelesaikan makan makan malamku sendirian. Karena siklus kembali berulang. Telepon penuh rencanadan kegembiraan di pagi hari.
Berlanjut dengan telepon keluh kesah disiang hari.
Berbagai perubahan rencana kecil-kecil di sore hari.
Pembatalan-pembatalan yang tak terucapkan.
Makan malam yang diselesaikan sendirian.
Berusaha tidur atau ketiduran.
Telepon pemberitahuan ditengah malam buta atau dini hari.
Kesibukan kecil akibat kepulangannya.
Tidur yang gelisah.
Bangun tergesa-gesa.
Bias kemerahan di barat langit sebagai tanda aku harus menguatkan hati untuk melepasnya berangkat lagi. Lengkaplah siklus itu tergenapkan.

Ini semua sudah berlangsung hampir tiga bulan ini. Tepatnya tiga hari setelah rangkaian acara pernikahan kami usai. Semua dimulai ketika kami melangkahkan kami memasuki gerbang neraka ini.
A hell called Pediatric Unit of a-so-called-National Cardiac Center.
A part of my husband journey to be a cardiologist.
A process that called residency. But I still call it HELL.

This is a beginning of my retrospective stories. Daily notes of a whinny, revengeful doctor’s wife.
More stories to come.


MGR 1, Tanjung Duren
21 September 2010
01.23