Terjawab sudah. Akhirnya kutemukan sebuah jawaban tentang keenggananku selama ini untuk menyambut tawarannya membina sebuah hubungan yang penuh makna. Berawal dari sebuah SMS sederhana, sarana komunikasi yang biasanya kami gunakan, hingga diakhir komunikasi, dia mencela pemikiranku yang kunilai biasa-biasa saja. Ternyata celaannya menimbulkan berbagai emosi dalam diriku. Berbagai rasa mulai rasa bersalah, malu dan tidak nyaman bercampur aduk dalam dadaku. Hingga diluar kemauanku, otakku memutar ulang berbagai rekaman dari ‘tarung debat’ kami selama ini. Ternyata, bila ingatan tidak menipu, aku baru menyadari bahwa selama ini aku sering kali berada dalam posisi inferior. Akulah si lemot, sementara dia adalah sang filsuf yang mengkritisi segala keaadan dunia ini.
Kuakui ketertarikanku padanya memang berawal dari hobi mind sparring kami. Pernyataan dan jawabannya yang witty ibarat magnet bagi otak dan hatiku. Ditambah dengan kecocokan kimia ragawi kami, serasa lengkaplah kecocokan itu. Tapi, bila semua itu harus dibayar dengan upayaku untuk terus-menerus menjaga diri agar senantiasa cerdas, senantiasa waspada menghadapi jebakan adu tarungnya, rasanya bank hatiku akan pailit juga .
Selama ini seringkali kutanamkan dalam diri tentang kriteria pasangan hidupku. Tidak muluk-muluk ujarku selalu. Aku hanya mengharapkan orang yang dapat membuatku nyaman dan aman untuk berkembang bersamanya. Selama ini kupikir sudah kutemukan kecocokan itu padanya. Ternyata mind compatibility, kecocokan hati ditambah kimia ragawi bukanlah jawaban mutlaknya. Ternyata aku masih butuh bumbu lain. Aku butuh penghargaan dan kesetaraan dari darinya. Kelapangannya untuk menerimaku apa adanya. Aku butuh dukungannya untuk merasa nyaman dan aman mengekspresikan diriku dan pikiranku apa adanya, tanpa perlu disensor. Tidak seperti saat ini, ketika kuevaluasi, seringkali kecocokan otak dan hati menguap entah kemana hanya meninggalkan kecocokan kimia ragawi yang sering kali dipandu oleh nafsu.
Ketika kenyataan ini mulai mengendap dalam diri, mau tidak mau aku merasa sedih. Aku kembali tidak mampu mempertahankan sebuah hubungan, apalagi hubunganku dengannya merupakan satu hubungan yang cukup besar maknanya dalam hidupku dan sudah kami jalin cukup lama. Banyak sudah pembelajaran yang kudapat darinya dan hubungan ini. Tapi di sisi lain ada satu jenis emosi yang melatari hatiku. Lega. Finally I got a closure. A good one actually, eventhough there is sadness in the sideline. Bye love…..
MTA. 02092006
17.35
No comments:
Post a Comment