Setelah selesai mengikuti group exercise di sebuah pusat kebugaran, saya dan Tiek beranjak ke kamar ganti untuk mandi. Di tengah perjalanan tiba-tiba saya merasa ada yang tertinggal di ruangan group exercise tadi. Saya pun bertanya pada Tiek, “Tadi loe ngeliatin semua bawaan gue kan? Ada yang ketinggalan gak?”
”Kok gue ngerasa ada yang ketinggalan ya?”
Dengan santainya Tiek menjawab, “Apaan? Harga diri?”
Cep!
Jawaban teman yang satu ini memang tidak pernah bisa saya duga. Cerkas. Begitu katanya bahasa Indonesianya untuk mengadaptasi kata witty. Sudahlah. Kembali ke harga. Sebelum kelas dimulai, kami sempat membahas tentang semakin sulitnya perempuan seusia kami untuk menemukan pasangan hidup. Entah karena pilihan semakin sedikit, kriteria semakin rumit, atau yang paling menyebalkan adalah karena masih banyak perempuan lain yang lebih muda!!!
Kebetulan sebelumnya kami sempat mengomentari perempuan-perempuan yang berolahraga dengan rambut tergerai rapi dan mengkilat. Kami mengagumi kekuatan mereka untuk menahan panas, keringat, dan kerepotan menjaga rambut, hanya demi mampu mengibaskan rambut indah tersebut kepada instruktur saat kelas berakhir. Yang nota bene, mereka itu rata-rata adalah perempuan yang usianya lebih muda dari saya dan Tiek. Dengan sedikit sedih saya berpikir…… Yaahhh… mungkin memang itu harga yang harus dibayar seorang perempuan untuk dapat memenangkan persaingan didunia perjodohan yang keras ini. Saya hanya tidak berhenti berpikir, kapan ya ke-cerkas-an, rasa humor yang tinggi, dan kemampuan untuk selalu menertawakan diri sendiri mendapat harga lebih tinggi daripada bentuk tubuh dan rambut indah mengkilat bergelombang komplit dengan kibasannya itu?
Rasuna, 08.09.2006
Maaf kalau saya terlalu cynical…..
No comments:
Post a Comment