Ternyata hasratku tidak sebesar perjuanganku mendapatkan buku tentang penyihir itu. Bungkus plastiknya sudah kubuka, lembar-lembar awalnya sudah mulai kubaca. Tapi entah kenapa, isi kepalaku selalu terbang ke sebuah buku yang kubeli dua hari yang lalu ketika aku membabi buta menyerbu pusat perbelanjaan setelah beradu mulut dengan orang tua pasienku. Khas sekali perempuan metropolitan yang mengobati sakit hatinya dengan berbelanja, aku membeli dua buku sekaligus pada hari itu. Padahal aku tahu, dua hari kedepan buku impianku sudah akan ada ditangan, sementara masih ada dua buku lagi yang belum kubaca.
Mengherankan memang betapa sebuah buku yang bercerita tentang anak melayu miskin itu bisa menjeratku. Sebuah buku yang bahkan logika make belief-nya kacau balau dengan gaya bahasa orang melayu yang penuh bualan. Tapi buku ini berhasil memaksaku untuk menahan kantuk. Betapa buku ini bahkan berhasil mengalahkan sebuah buku yang ditulis oleh seorang pengarang yang kespektakulerannya telah diakui oleh dunia
Apa karena buku anak melayu ini menawarkan mimpi-mimpi optimis, sementara buku penyihir bule itu menawarkan kematian yang gelap? Atau mungkin kenangan patriotisme tim nasional sepak bola kita pada pertarungan AFC kemarin masih menggelorakan nasionalismeku sehingga aku memilih lebih mementingkan kelangsungan hidup anak bangsa? Atau karena cerita anak melayu ini dekat dengan akar ke-melayu-anku? Entahlah……
PK, 22 Juli 2007
0.31
Budak di sini adalah kosa kata melayu untuk menyebut anak.
No comments:
Post a Comment